Menongkah, Menyongsong Arus

Karya Baru Iwan Irawan Permadi, Nafas Tradisi Melayu yang Menantang Zaman

Karya Baru Iwan Irawan Permadi, Nafas Tradisi Melayu yang Menantang Zaman

Foto: ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Angin pesisir yang sarat aroma asin laut dan desir arus sungai akan bersemayam di panggung Gedung Anjung Seni Idrus Tintin, Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru, pada 19–20 Juni 2026. Koreografer Riau SPN, Iwan Irawan Permadi, kembali mempersembahkan karya tari terbarunya bertajuk “MENONGKAH – MENYONGSONG ARUS”, sebuah pergelaran berdurasi 60 menit yang sarat makna, tafsir, dan semangat zaman.

Gelar karya tari kreatif inovatif ini merupakan bagian dari Program Bantuan Dana Indonesia Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Tahun 2025/2026 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sebuah amanah besar yang dijawab Iwan dengan karya yang berpijak kuat pada tradisi, namun berani menyongsong pembaruan.

Menongkah: Falsafah Hidup Orang Melayu
“Menongkah” adalah salah satu ragam gerak dalam Tari Zapin Riau. Dalam khazanah Melayu, gerak ini mengandung filosofi mendalam: senantiasa sabar, tabah berjuang, dan berikhtiar menghadapi pasang surut kehidupan. Nilai ini menjadi ruh utama dalam karya yang dihadirkan.

Melalui tafsir artistiknya, Iwan mengangkat realitas masyarakat pesisir Riau yang dikenal tegas, keras, namun terbuka. Mereka hidup berdampingan dengan sungai, laut, dan hutan—ruang hidup yang bukan sekadar lanskap alam, tetapi juga sumber penghidupan dan identitas.

Namun zaman bergerak cepat. Krisis air sungai akibat limbah, abrasi yang menggerus daratan, hingga penebangan hutan di hulu yang memicu erosi dan sedimentasi, menjadi ancaman nyata. Sungai yang keruh tak lagi sekadar persoalan estetika, tetapi menyangkut kelangsungan ekosistem dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui “MENONGKAH – MENYONGSONG ARUS”, Iwan menghadirkan tafsir tubuh atas kegelisahan itu. Gerak-gerak Zapin ditelusuri ulang, diriset, lalu diinterpretasi kembali agar tetap relevan dengan denyut zaman. Tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga direnungkan dan diperbarui.

“Tradisi Melayu tidak semata untuk disimpan, melainkan untuk dihidupkan kembali melalui pembacaan yang jujur dan berani,” demikian semangat yang terpancar dari karya ini.

Bangkit Melawan Arus
Karya ini bukan sekadar pertunjukan estetis, melainkan refleksi sosial. Masyarakat pesisir digambarkan sebagai sosok yang harus bangkit melawan arus perubahan sosial dan ekonomi, bahkan menghadapi arogansi kekuasaan yang tak berpihak kepada rakyat kecil.

Namun seperti makna “menongkah”, mereka tetap sabar dan tabah. Menerjang gelombang, menapak masa depan dengan tekad yang tak surut. Pesan ini diterjemahkan melalui komposisi gerak yang dinamis, dramatik, dan penuh energi, berpadu dengan musik yang mengalun sekaligus menghentak.

Kolaborasi 35 Insan Seni
Pergelaran ini didukung oleh 35 orang seniman dan pekerja seni, menjadi bukti bahwa karya besar lahir dari kebersamaan.
Produksi dipimpin oleh M. Andika, dengan komposer Zalvandry Zainal yang meramu lanskap bunyi bernuansa Melayu kontemporer. Para penari: Qisya, Aika, Nasyila, Malika, Gya, Farren, Tio Akbar, Renno, Efri, Amos, Rifa’i, Murfid, dan Queen Qammy menjadi tubuh-tubuh yang menuturkan cerita pesisir melalui bahasa gerak.

Dramaturgi digarap oleh Miftakhul Hauna, M.Sn, dengan narasumber Allen Trendy. Penata artistik Amesa Aryana dan Yayan Lesmana, penata cahaya Mahar Al Malik, serta pemimpin panggung Muammar Ghadavi bersama tim panggung dan produksi turut menyempurnakan keseluruhan estetika pertunjukan.

Dokumentasi dipercayakan kepada Claudio Chantona dan Tengku Syauqi.

Pergelaran ini juga mendapat dukungan dari Pusat Latihan Tari Laksemana, Balai Sanggam Melayu, dan Blacan Romantic.

Tali Silaturahmi dan Pertanggungjawaban Seniman
Bagi seorang koreografer, pergelaran karya adalah bentuk pertanggungjawaban artistik sekaligus dialog dengan masyarakat. Semakin sering seorang seniman berproses, semakin terbuka ruang percakapan antara karya dan penikmatnya.

“MENONGKAH – MENYONGSONG ARUS” menjadi jembatan silaturahmi antara pelaku dan pencinta seni, antara tradisi dan masa kini, antara kegelisahan dan harapan.

Di panggung itu nanti, Zapin tak hanya menari, ia berbicara tentang sungai yang keruh, tentang hutan yang luka, tentang masyarakat yang bertahan, dan tentang harapan yang tak pernah padam.

Seperti orang Melayu berkata,
Sekali air bah, sekali pantai berubah.
Namun selama ada tekad untuk menongkah, arus sebesar apa pun akan tetap bisa disongsong.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :