Kronologi Pengeroyokan Guru SMK di Tanjab Timur, dari Teguran kelas hingga Kekerasan Massal

Kronologi Pengeroyokan Guru SMK di Tanjab Timur, dari Teguran kelas hingga Kekerasan Massal

Foto: Ist

JAMBI, RANAHRIAU.COM- Kasus pengeroyokan terhadap Agus Saputra, guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, membuka tabir kelam relasi guru dan siswa di lingkungan sekolah. Insiden yang terekam kamera dan viral di media sosial itu bukan peristiwa spontan, melainkan akumulasi konflik yang telah lama terpendam.

Berikut kronologi lengkap kejadian berdasarkan keterangan korban dan informasi yang beredar:

Konflik Berlangsung Lama
Menurut pengakuan Agus Saputra, sebelum insiden pengeroyokan terjadi, ia telah lama mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari sejumlah siswa, terutama siswa laki-laki. Bentuknya mulai dari ucapan tidak sopan, sikap menantang, hingga tindakan yang dinilai melecehkan otoritas guru di dalam lingkungan sekolah.

Namun, perilaku tersebut kerap dibiarkan dan tidak ditangani secara tegas, hingga akhirnya menjadi bom waktu.

Teguran di Jam Pelajaran Penjas
Puncak konflik terjadi pada jam pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Agus mendengar teriakan salah satu siswa dengan nada keras dan tidak pantas, yang dinilainya melanggar etika serta disiplin sekolah.
Sebagai guru, Agus langsung menegur siswa tersebut dengan tujuan menertibkan suasana dan menegakkan aturan.

Situasi Memanas
Alih-alih meredam keadaan, teguran itu justru memicu ketegangan. Siswa yang ditegur menunjukkan sikap tidak terima. Situasi kemudian berkembang cepat, melibatkan sejumlah siswa lain yang ikut tersulut emosi.
Perdebatan berubah menjadi dorong-dorongan, hingga akhirnya berujung pada tindakan fisik.

Guru Dikeroyok di Lingkungan Sekolah
Dalam waktu singkat, Agus Saputra menjadi sasaran pengeroyokan oleh beberapa siswa. Aksi kekerasan itu terjadi di area sekolah, tempat yang seharusnya steril dari tindakan brutal.
Peristiwa tersebut direkam oleh pihak yang berada di lokasi. Dalam video yang kemudian beredar luas, tampak korban dipukul secara beramai-ramai tanpa ada upaya pencegahan yang efektif.

Video Viral, Publik Bereaksi Keras
Rekaman pengeroyokan itu menyebar cepat di media sosial dan memicu gelombang kemarahan publik. Masyarakat menilai kejadian ini sebagai bentuk runtuhnya wibawa guru sekaligus kegagalan sekolah dalam menciptakan lingkungan aman.
Berbagai pihak mempertanyakan peran pengawasan sekolah, manajemen kedisiplinan, hingga perlindungan hukum terhadap guru.

Sorotan terhadap Kebijakan Sekolah Aman
Kasus ini mencuat di tengah
diberlakukannya Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Namun, kejadian di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur justru menjadi bukti bahwa implementasi kebijakan tersebut masih lemah dan jauh dari harapan.

Penanganan Masih Berjalan
Hingga kini, kasus pengeroyokan terhadap Agus Saputra masih menjadi perhatian publik dan berbagai pihak terkait. Masyarakat menuntut penanganan yang tegas, adil, dan transparan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Insiden ini menjadi peringatan keras: jika kekerasan terhadap guru dibiarkan, maka sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang pendidikan dan berubah menjadi zona rawan konflik.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :