Bila Adab Tercabut, Ilmu Pun Tumbang: Krisis Pendidikan di Tanah Melayu Jambi
RANAHRIAU.COM- Orang Melayu sejak dulu berpesan: adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Sekolah, dalam pandangan Melayu, bukan sekadar tempat memindahkan ilmu dari kepala ke kepala, tetapi medan menanam adab, marwah, dan harga diri. Maka ketika ruang kelas SMK 3 Tanjung Jabung Timur berubah menjadi arena kekerasan, guru ditinju, siswa dikeroyok, kata-kata hina dilontarkan yang sesungguhnya runtuh bukan hanya disiplin, tetapi sendi adat dan etika pendidikan itu sendiri. Peristiwa ini bukan peristiwa kecil. Ini luka yang membuka borok lama.
Lidah Lebih Tajam dari Pedang
Dalam adat Melayu, lidah adalah perkara paling dijaga. Terlajak perahu boleh diundur, terlajak kata buruk padahnya. Jika benar ada ucapan “miskin” yang meluncur dari mulut seorang guru, maka itu bukan sekadar kalimat, itu luka martabat. Di negeri yang menjunjung marwah, menghina keadaan hidup seseorang sama saja menelanjangi harga dirinya di muka khalayak.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak dari keluarga susah merasa dimuliakan oleh ilmu, bukan dipermalukan oleh kata-kata. Bila guru yang digugu dan ditiru tergelincir lidahnya, maka hilanglah teladan. Ilmu boleh tinggi, tetapi tanpa adab, ia tak lebih dari beban.
Baca juga di :
Kronologi Pengeroyokan Guru SMK di Tanjab Timur, dari Teguran kelas hingga Kekerasan Massal
Tangan yang Terangkat, Akal yang Ditanggalkan
Namun adat Melayu juga tegas: pantang anak Melayu menyelesaikan masalah dengan tangan. Tamparan, apalagi pengeroyokan, adalah tanda akal ditinggalkan, amarah dijadikan nakhoda. Menampar murid atas nama “pendidikan moral” justru menegaskan kegagalan paling mendasar dalam mendidik: hilangnya kesabaran.
Sebaliknya, pengeroyokan terhadap guru, siapa pun orangnya, juga adalah pelanggaran besar terhadap nilai Melayu. Guru adalah orang tua di sekolah. Melawan guru dengan kekerasan sama artinya memutus tali adab. Di sini, amarah kolektif telah mengalahkan akal budi.
Sekolah Kehilangan Tuah, Negara Datang Terlambat
Dalam tradisi Melayu, pemimpin yang baik adalah yang hadir sebelum ribut membesar, bukan setelah nasi menjadi bubur. Ketika Dinas Pendidikan baru “akan mendalami” setelah video viral, itu menandakan negara datang terlambat, seperti pemadam kebakaran yang tiba setelah rumah menjadi abu.
Di mana peran kepala sekolah sebagai tua kampung di lingkungan pendidikan?
Di mana guru BK sebagai tempat murid mengadu tanpa takut?
Di mana pengawasan dinas terhadap iklim psikologis sekolah?
Jika sekolah dibiarkan tanpa pengayoman, maka murid akan mencari keadilan dengan caranya sendiri. Dan bila itu terjadi, adat pun tersingkir.
Pendidikan Tanpa Adab, Ibarat Rumah Tanpa Tiang
Orang Melayu berkata: ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu, cepat padam dan membakar. Kurikulum kita mungkin penuh target, rapor penuh angka, tetapi kosong pembinaan budi pekerti. Guru ditekan administrasi, murid ditekan nilai, sementara hubungan manusiawinya dibiarkan rapuh.
Akibatnya, satu kata menghina meledak menjadi kekerasan. Satu tamparan menjelma amuk ramai-ramai. Ini bukan semata kesalahan individu, melainkan kegagalan sistem yang lupa akar budayanya sendiri.
Mengembalikan Pendidikan ke Pangkal Adat
Kasus SMK 3 Tanjung Jabung Timur harus dibaca sebagai peringatan keras: pendidikan di Tanah Melayu tak boleh tercerabut dari nilai Melayunya. Guru harus kembali pada adab sebelum ilmu. Murid harus dibimbing agar berani bicara tanpa mengangkat tangan. Sekolah harus menjadi tempat musyawarah, bukan gelanggang.
Jika tidak, maka benarlah pepatah lama: hilang adab, binasalah bangsa. Dan bila pendidikan ikut hanyut, jangan salahkan siapa pun ketika generasi muda kelak menyelesaikan segala perkara bukan dengan akal, tetapi dengan amarah.
Karena di ujungnya, pendidikan bukan soal siapa yang kuat, tetapi siapa yang paling tahu menjaga marwah.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Pimred ranahriau.com


Komentar Via Facebook :