Catatan 53 Tahun PDI Perjuangan: Menjaga Api Perjuangan dalam Tunjuk Ajar Melayu dan Tantangan Zaman
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Usia lima puluh tiga tahun bagi PDI Perjuangan ibarat pohon tua di halaman kampung: akarnya sudah menembus tanah sejarah, batangnya ditempa badai zaman, dan dahannya Dijadikan tempat rakyat berteduh menaruh harap.
Dalam tradisi Melayu, usia bukan sekadar hitungan waktu, melainkan ukuran kebijaksanaan. “Tua tidak sekadar umur, tua itu bertuah,” demikian petuah orang tua-tua.
Maka peringatan hari ulang tahun ke-53 PDI Perjuangan layak dibaca sebagai momen bertimbang rasa, menilik kembali janji perjuangan, serta menakar arah langkah ke hadapan.
Secara historis, PDI Perjuangan lahir dari rahim pergulatan panjang bangsa ini, pergulatan antara kuasa dan nurani, antara kepentingan elite dan suara rakyat.
Dalam bahasa Melayu, “berdiri di pihak yang benar meski arus deras melawan”. Partai ini tumbuh dari tradisi nasionalisme kerakyatan yang sejalan dengan nilai luhur Melayu: menjunjung marwah, memelihara keadilan, dan berpihak pada yang lemah.
Pancasila, sebagai asas ideologis, sejiwa dengan tunjuk ajar Melayu yang menempatkan keadilan dan kemanusiaan sebagai sendi hidup bermasyarakat.
Dalam kajian politik, konsistensi ideologis menjadi faktor utama daya tahan partai. Di tengah pragmatisme yang kian menggerus makna politik, PDI Perjuangan relatif mampu menjaga garis nasionalis-populisnya.
Basis “wong cilik” yang diusung selama ini sejatinya sepadan dengan falsafah Melayu “yang kecil dilindungi, yang besar dipelihara, yang lemah dibela”.
Inilah modal sosial dan kultural yang membuat PDI Perjuangan tetap hidup dalam ingatan kolektif rakyat.
Namun, adat Melayu juga mengajarkan: “Besar kayu, besar dahannya; tinggi pohon, kencang pula anginnya.” Usia matang membawa tanggung jawab yang kian berat.
Tantangan internal seperti kaderisasi, regenerasi kepemimpinan, dan bahaya oligarkisasi menjadi ujian serius. Dalam perspektif ilmiah, partai yang terlalu lama berada di lingkar kekuasaan berisiko kehilangan kepekaan sosial.
Jika ini terjadi, maka partai akan “tinggi di pucuk, renggang di akar", jauh dari denyut nadi rakyat yang selama ini menjadi sumber kekuatannya.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi antara ideologi dan praktik kekuasaan. Tradisi Melayu menegaskan, “Kuasa itu amanah, bukan kemegahan.”
Kekuasaan yang tidak dibatasi nilai akan berubah menjadi beban sejarah. Di sinilah PDI Perjuangan diuji: apakah kekuasaan dipakai untuk menegakkan keadilan sosial, atau justru terjebak dalam kompromi pragmatis yang menumpulkan keberpihakan. Dalam teori politik, inilah paradoks partai ideologis, antara idealisme dan realitas pemerintahan.
Di sisi lain, perubahan lanskap demokrasi digitalisasi politik, menguatnya politik identitas, serta menurunnya kepercayaan publik ini menuntut adaptasi yang cerdas.
PDI Perjuangan dituntut tidak hanya piawai dalam strategi elektoral, tetapi juga unggul dalam produksi gagasan kebijakan yang berpihak pada kepentingan jangka panjang rakyat.
Dalam kearifan Melayu, “jauh pandang, dalam kira” menjadi prinsip utama agar keputusan hari ini tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.
Harapan ke depan, pada usia ke-53 ini, PDI Perjuangan mampu meneguhkan kembali jati dirinya sebagai partai ideologis yang berakar kuat dan berdaun rimbun.
Penguatan pendidikan kader berbasis ideologi, keberanian bersikap kritis terhadap kekuasaan termasuk kekuasaan yang lahir dari rahimnya sendiri serta keberpihakan nyata pada rakyat kecil harus menjadi agenda utama. Sebab, seperti petuah Melayu, “adat dijunjung, janji ditunai, amanah jangan dikhianati.”
Sejarah panjang PDI Perjuangan diartikan sebagai pusaka, bukan jaminan. Dalam politik, pusaka hanya bermakna jika dirawat dan digunakan untuk kemaslahatan.
Di usia ke-53, PDI Perjuangan ditantang untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar partai besar dalam catatan masa lalu, tetapi juga partai yang tahu asal-usul, ingat janji, dan setia membela rakyat. Karena dalam adat Melayu, “yang kekal bukan kuasa, tetapi budi dan jasa.”
Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Wakil Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPD Repdem Propinsi Riau


Komentar Via Facebook :