Sebuah Catatan Jelang Musyawarah Khusus FKPMR
PAW Ketua Umum FKPMR: Menjunjung Amanah atau Menggenggam Kuasa?
RANAHRIAU.COM- Wafatnya drh. Chaidir, Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga terputusnya satu simpul penyeimbang dalam rumah besar pemuka masyarakat Riau.
Namun duka tidak boleh berlarut, bak kata pepatah Melayu yang ditulis oleh Alm. Tenas Effendy : "Duka jangan dipendam lama, agar hidup tidak sengsara", sebuah pepatah yang mempunyai makna dan dorongan agar menerima kenyataan dan bangkit dari kedukaan.
Pergantian Antar Waktu (PAW) yang dirangkai dalam agenda Musyawarah khusus FKPMR yang bakal digelar Pekan depan di Gedung Dang Merdu nanti, mengemukakan sebuah urusan yang sah menurut aturan, termaktub didalam aturan organisasi. Namun sarat timbang rasa dan adab.
Dalam adat Melayu dikenal petuah: “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Maka urusan mengganti pucuk pimpinan semestinya dijalankan dengan kepala dingin dan hati lapang, bukan dengan langkah tergesa yang berpotensi menimbulkan riak di kemudian hari. Sebab dalam adat, yang didahulukan bukan cepatnya keputusan, melainkan lurusnya jalan.
FKPMR berdiri sebagai wadah para pemuka, orang-orang yang kata dan tindaknya selama ini dijadikan rujukan. Oleh karena itu, PAW tidak boleh dipersepsikan sekadar urusan struktur.
Cara bermusyawarah, cara membuka ruang pandang, dan cara menghormati sesama justru menjadi ukuran utama apakah marwah organisasi tetap terjaga.
Almarhum drh. Chaidir dikenal luas sebagai sosok yang mampu merawat keseimbangan dan menenangkan perbedaan. Ketiadaan figur seperti ini menuntut kebijaksanaan kolektif yang lebih besar.
Dalam kondisi demikian, berpegang teguh pada AD/ART, menjunjung musyawarah mufakat, serta menghindari kesan tertutup menjadi keharusan, bukan anjuran.
Adat Melayu juga mengingatkan: “Elok pemimpin kerana amanah, rosak negeri kerana culas.” Pepatah ini relevan sebagai pengingat bahwa setiap proses kepemimpinan termasuk PAW, akan dinilai bukan dari siapa yang dipilih, melainkan bagaimana adab dan nilai dijaga sepanjang proses.
FKPMR kini berada di persimpangan. PAW bisa menjadi titik penguatan kembali kepercayaan, atau sebaliknya meninggalkan kesan bahwa organisasi moral pun tak luput dari dinamika yang selama ini mereka nasihatkan agar dihindari. Persepsi publik akan terbentuk secara alamiah, mengikuti alur proses yang terlihat dan terasa.
Pada akhirnya, masyarakat Riau tidak menuntut kesempurnaan. Yang diharapkan hanyalah keteladanan bahwa para pemuka mampu menyelesaikan urusan besar dengan cara yang elok, beradat, dan bermarwah.
"Sebab dalam Melayu, yang naik bukan sekadar orangnya, tetapi juga marwahnya".
Penulis : Abdul Hafhiz AR, S.IP adalah Pemimpin Redaksi ranahriau.com, serta aktif sebagai Humas Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) dan Humas PWI Riau, pemerhati sosial yang terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan konsisten mengangkat isu publik, sosial, serta kebudayaan Melayu Riau melalui kerja jurnalistik yang beretika.


Komentar Via Facebook :