Bernada, Bermadah, dan Bermarwah: Falsafah Hidup Orang Melayu
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Orang Melayu tidak memandang kata sebagai bunyi kosong, dan tidak pula memandang bicara sebagai pelampiasan rasa. Dalam adat dan budaya Melayu, kata adalah cermin jiwa, suara adalah penanda budi, dan sikap adalah ukuran marwah. Karena itulah lahir falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun: bernada dalam bertutur, bermadah dalam berkata, dan bermarwah dalam bersikap.
Bernada: Suara yang Beradat, Bicara yang Berakal
Bernada bukan sekadar berbicara dengan suara, tetapi berbicara dengan adab. Nada menjadi penentu apakah sebuah tutur membawa kesejukan atau justru menimbulkan luka. Orang Melayu diajarkan untuk menakar suara sebelum berkata, menimbang rasa sebelum bersuara. Suara yang terlalu tinggi dianggap mencerminkan amarah, sementara suara yang terlalu rendah tanpa kejelasan dianggap kurang berani bertanggung jawab.
Dalam adat dikatakan, “Bernada rendah tanda berakal, bernada tinggi tanda tercela.” Nada yang elok melahirkan suasana damai, memudahkan musyawarah, dan menjaga kehormatan lawan bicara. Karena itu, orang Melayu pantang membentak orang tua, meninggikan suara kepada yang dihormati, atau bersuara kasar di khalayak ramai.
Bernada mengajarkan bahwa suara adalah pakaian kata. Bila pakaiannya compang-camping, seindah apa pun kata akan tampak buruk. Sebaliknya, bila nadanya elok, kata yang keras pun dapat diterima dengan lapang dada.
Bermadah: Kata Berlapik, Pesan Bertuah
Bermadah adalah seni berkata orang Melayu. Ia lahir dari kecerdasan rasa dan kejernihan budi. Bermadah berarti menyampaikan maksud tanpa melukai, menegur tanpa mempermalukan, mengingatkan tanpa merendahkan. Dalam masyarakat Melayu, pantun, pepatah, bidal, dan perumpamaan bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi alat menjaga keharmonisan hidup.
Orang Melayu lebih suka berkata, “Jika padi sudah menguning, tunduklah ia ke bumi,” daripada langsung menuduh seseorang sombong. Inilah bermadah—pesan sampai, marwah tetap terjaga. Madah menjinakkan amarah, meredam ego, dan membuka pintu musyawarah.

Bermadah juga mengajarkan kehati-hatian. Tidak semua yang terlintas di hati patut dilontarkan ke lisan. Dalam adat disebutkan, “Terlepas kata tak dapat ditarik, tergores hati sukar diubat.” Oleh sebab itu, orang Melayu berfikir panjang sebelum berkata, karena kata yang salah bisa memecah persaudaraan dan meruntuhkan kepercayaan.
Bermarwah: Harga Diri yang Dijunjung Tinggi
Bermarwah adalah tujuan akhir dari bernada dan bermadah. Marwah bukan sekadar kehormatan pribadi, tetapi juga kehormatan keluarga, suku, dan kaum. Orang Melayu hidup dengan kesadaran bahwa satu kata bisa mengangkat martabat, dan satu kata pula bisa menjatuhkan marwah ke tanah.
Marwah terjaga ketika seseorang tahu menempatkan diri, tahu kapan berbicara dan kapan diam. “Diam berisi emas, berkata berisi intan,” itulah gambaran orang yang bermarwah. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap katanya bernilai. Ia tidak mudah tersinggung, tetapi tegas ketika prinsip diinjak.
Dalam adat Melayu, kehilangan marwah lebih memalukan daripada kehilangan harta. Sebab harta bisa dicari, pangkat bisa diganti, tetapi marwah yang runtuh akan sulit ditegakkan kembali. Oleh karena itu, orang Melayu pantang berbuat aib di hadapan orang banyak, pantang membuka keburukan sendiri, dan pantang mempermalukan sesama.
Kesatuan Tiga Nilai dalam Kehidupan
Bernada, bermadah, dan bermarwah bukan tiga perkara yang berdiri sendiri. Ketiganya saling mengikat, saling menguatkan. Bernada tanpa bermadah akan menjadi suara kosong. Bermadah tanpa bermarwah hanya akan menjadi kata indah tanpa makna. Sedangkan bermarwah tanpa keduanya akan rapuh dan mudah runtuh.
Dalam kehidupan bermasyarakat, tiga nilai ini menjadi pedoman dalam bermusyawarah, memimpin, mendidik, dan menyelesaikan sengketa. Seorang pemimpin Melayu diukur bukan dari kerasnya perintah, tetapi dari lembutnya nada, bijaknya madah, dan tegaknya marwah.
Maka selama adat dijunjung dan bahasa dipelihara, selama nada dijaga dan madah dirawat, marwah Melayu akan tetap tegak berdiri. Inilah warisan luhur yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.
Bahasa dijaga, budi dipelihara, marwah Melayu kekal sepanjang masa.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred di media online ranahriau.com, Humas di Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), Humas di PWI Riau, aktif di berbagai kegiatan dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan.


Komentar Via Facebook :