Numismatik Riau: Jejak Uang Lama yang Menggambarkan Dinamika Ekonomi masa Silam

Numismatik Riau: Jejak Uang Lama yang Menggambarkan Dinamika Ekonomi masa Silam

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU. COM– Riau dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional.

Interaksi ekonomi yang luas inilah yang membuat berbagai mata uang dari berbagai peradaban pernah beredar di kawasan ini. Koleksi numismatik Museum Sang Nila Utama turut menggambarkan dinamika tersebut secara lengkap.

Pada masa kerajaan-kerajaan Melayu, hubungan dagang dengan negeri-negeri Asia Timur sangat kuat.

Hal ini dapat dilihat dari keberadaan koin cash China yang terbuat dari tembaga dengan lubang persegi di tengah sebagai ciri khasnya.

Koin ini menjadi bukti bahwa jalur perdagangan laut telah menghubungkan Riau dengan Tiongkok sejak berabad-abad lalu.

Selain koin cash, salah satu koleksi unik lainnya adalah uang petik, yaitu mata uang berbahan timah yang bentuknya menyerupai ranting atau tangkai daun.

Setiap ruas pada uang petik dapat “dipetik” untuk dijadikan satuan kecil dalam transaksi. Jenis uang ini menggambarkan sistem ekonomi tradisional Melayu yang bersifat komunal dan fleksibel.

Memasuki era kolonial, wilayah Riau berada di bawah kekuasaan VOC dan Hindia Belanda. Pada masa ini, diperkenalkan berbagai jenis koin kolonial yang kemudian menjadi alat transaksi resmi.

Di antara koleksinya terdapat koin VOC pecahan 1 duit, yang menjadi salah satu bukti awal penetrasi ekonomi kolonial di Nusantara.

Selain itu, museum juga menyimpan koin stuiver, sen, dan gulden Hindia Belanda yang digunakan secara luas di seluruh wilayah jajahan Belanda.

Kehadiran mata uang tersebut menandai perubahan besar dalam sistem moneter lokal yang sebelumnya lebih beragam. Pada periode ini juga beredar koin token seperti 1 Keping Negeri Siak, 1 Keping Sumatra, dan 1 Keping Tanah Melayu yang digunakan untuk transaksi regional.

Tidak hanya uang logam, sistem pembayaran masa kolonial juga menggunakan uang kertas.

Koleksi numismatik museum memuat uang kertas Gulden De Javasche Bank dalam berbagai pecahan. Keberadaan uang tersebut memperlihatkan perkembangan sistem perbankan dan administrasi ekonomi Belanda di wilayah pesisir Sumatra.

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942–1945, seluruh Nusantara termasuk Riau menggunakan uang yang dikeluarkan pemerintah militer Jepang.

Museum Sang Nila Utama menyimpan uang kertas Sen dan Gulden bertuliskan “De Japansche Regeering”, yang memperlihatkan perubahan drastis dalam kebijakan keuangan pada masa perang. Koleksi lainnya mencakup uang kertas Rupiah “Dai Nippon Teikoku Seihu” dan “Dai Nippon” yang menjadi alat tukar resmi saat itu.

Setelah Indonesia merdeka, perjalanan mata uang di Riau memasuki babak baru yang ditandai dengan lahirnya rupiah.

Di museum, pengunjung dapat melihat koin Rupiah dan Sen dari Emisi 1951 hingga Emisi 2016, yang menunjukkan perkembangan desain, teknologi pencetakan, serta stabilitas ekonomi bangsa dari tahun ke tahun.

Koleksi tersebut juga memberi gambaran perubahan nilai dan kebijakan moneter Indonesia.

Salah satu koleksi menarik lainnya adalah uang kertas Gulden NICA, yang beredar pada masa transisi setelah Jepang menyerah dan Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia. Uang tersebut menjadi bukti pergolakan politik dan ekonomi di Indonesia sebelum pengakuan kedaulatan.

Koleksi numismatik semakin lengkap dengan hadirnya seri-seri uang kertas Indonesia dari berbagai periode, mulai dari ORI (Oeang Republik Indonesia) 1945–1948, Seri RIS 1950, Seri Pemandangan Alam 1951–1953, Seri Kebudayaan 1952, hingga seri-seri tersohor lainnya. Termasuk di antaranya adalah emisi khusus untuk Riau/Kepulauan Riau (KR-Rp) tahun 1963–1964, yang menjadi bukti penting dinamika ekonomi dan kebijakan teritorial pada masa itu.

Pada kesempatan, Senin (8/12/2025), Kepala UPT Museum Sang Nila Utama, Tengku Leni, mengatakan bahwa koleksi numismatik menjadi salah satu media penting untuk memahami perubahan ekonomi di Riau. Menurutnya, setiap koin dan uang kertas menyimpan jejak kebijakan serta hubungan perdagangan yang terjadi di masa lalu.

“Numismatik bukan sekadar benda lama. Melalui uang-uang ini, kita bisa membaca bagaimana Riau terhubung dengan berbagai bangsa, bagaimana ekonomi masyarakat berubah, dan bagaimana setiap masa meninggalkan jejaknya dalam sistem transaksi,” ujar Tengku Leni di Museum Sang Nila Utama.

Editor : RRMedia
Sumber : Media Center
Komentar Via Facebook :