Dari Panggung ke Harapan: Pasar Tari Kontemporer XI jadi Ruang tumbuh Koreografer Muda Riau

Dari Panggung ke Harapan: Pasar Tari Kontemporer XI jadi Ruang tumbuh Koreografer Muda Riau

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Lampu panggung Gedung Anjung Seni Idrus Tintin kembali menyala. Bukan sekadar menyorot gerak tubuh para penari, tetapi juga harapan, mimpi, dan kerja panjang para pelaku seni yang terus bertahan di tengah keterbatasan.

Selama dua hari, 28–29 November 2025, Pasar Tari Kontemporer (PASTAKOM) XI menjadi ruang perjumpaan kreativitas dan regenerasi seni tari di Provinsi Riau.

Kegiatan yang digelar bersempena dengan 41 tahun Pusat Latihan Tari Laksemana ini menghadirkan 12 koreografer dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka datang dari Cirebon, Solo, Surakarta, Jambi, hingga daerah-daerah di Riau seperti Dumai, Siak, Pelalawan, dan lima koreografer asal Pekanbaru.

Direktur PASTAKOM SPN, Iwan Irawan Permadi, mengatakan bahwa setiap karya yang ditampilkan bukan lahir secara instan, melainkan melalui proses kurasi dan perjalanan kreatif yang panjang.

“Pasar Tari Kontemporer bukan hanya soal pertunjukan, tapi tentang memberi ruang bagi seniman untuk tumbuh, bertemu, dan saling belajar. Setiap koreografer membawa latar, cerita, dan kegelisahannya masing-masing,” ujarnya.

Di balik gemulai gerak di atas panggung, tersimpan cerita tentang latihan yang tak kenal waktu, pencarian identitas, serta keberanian mengolah tradisi ke dalam bahasa tari kontemporer.

PASTAKOM XI menjadi tempat di mana karya-karya itu akhirnya bertemu dengan penonton.

Dukungan penuh dari PT Riau Petroleum (Perseroda) dan Dinas Pariwisata Provinsi Riau memberi napas bagi terselenggaranya kegiatan ini, sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara dunia usaha dan pelaku seni dapat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kebudayaan daerah.

Sementara itu, Ketua Pelaksana PASTAKOM XI, Duni Sriwani, menaruh harapan besar pada dampak jangka panjang kegiatan ini.

“Kami ingin PASTAKOM melahirkan koreografer-koreografer baru di Riau, yang percaya diri berkarya, berani bereksplorasi, dan tidak kehilangan akar budayanya,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Pasar Tari Kontemporer XI menjelma menjadi ruang aman bagi seniman untuk bersuara melalui tubuh dan gerak.

Di panggung sederhana itu, seni tari tidak hanya dipertontonkan, tetapi dirawat—sebagai warisan, sebagai identitas, dan sebagai masa depan.
 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :