Museum Sang nIla Utama, Filosofi Tombak dan Keris dalam Tradisi Panjang Kebudayaan Melayu
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Kebudayaan Melayu memiliki tradisi panjang dalam menciptakan dan memaknai senjata tajam, yang tidak hanya digunakan sebagai alat pertahanan diri, tetapi juga simbol kehormatan, keberanian, dan martabat.
Koleksi senjata tradisional di Museum Sang Nila Utama, seperti keris, tumbuk lada, dan tombak, memperlihatkan betapa dalam nilai filosofis yang terkandung pada setiap bilahnya. Artefak-artefak ini menjadi saksi perjalanan budaya Melayu yang menjunjung tinggi kesantunan namun tegas dalam mempertahankan harga diri.
Keris menjadi salah satu koleksi paling sarat makna dalam budaya Melayu. Pada masa awal kesultanan lebih dari 800 tahun lalu, keris memang digunakan sebagai senjata tikam dalam pertempuran. Namun, seiring perkembangan zaman, keris bertransformasi menjadi simbol supremasi, status sosial, dan kedaulatan, terutama di lingkungan istana.

Tidak hanya digunakan sebagai senjata, keris juga merupakan lambang mutlak kekuasaan yang dikenakan oleh raja dan para bangsawan. Nilai seninya pun tampak dari pamor logam berlapis yang indah, ukiran hulu yang rumit, hingga bilah yang dibuat dengan teknik tempa khusus. Semua unsur ini menjadikan keris sebagai mahakarya yang dihormati lintas generasi.
Secara filosofis, keris mengandung nilai spiritual yang kuat. Kisah-kisah Melayu klasik, seperti legenda Keris Taming Sari milik Laksamana Hang Tuah, menggambarkan keris sebagai benda sakral yang dipercaya memberi kekuatan, kecerdikan, dan keberanian kepada pemiliknya. Dalam kehidupan adat, keris menyertai berbagai upacara penting seperti pernikahan, pelantikan, hingga prosesi adat istana.
Posisi pemakaian keris juga menjadi simbol tertentu: dikenakan di belakang saat masa damai sebagai lambang kesantunan, dan di depan pada masa perang sebagai wujud kesiapsiagaan. Makna ini mengajarkan bahwa orang Melayu menjunjung perdamaian, tetapi tetap siap mempertahankan diri ketika kehormatan terganggu.

Selain keris, Museum Sang Nila Utama juga menyimpan koleksi Tumbuk Lada, senjata tikam kecil yang sering dikaitkan dengan peribahasa “kecil-kecil cili padi.” Meski ukurannya kecil, Tumbuk Lada terkenal mematikan. Senjata ini menggambarkan karakter orang Melayu yang lembut namun berani membela diri ketika marwah mereka dilanggar.
Filosofi Tumbuk Lada berkaitan erat dengan keberanian jarak dekat. Tidak seperti tombak atau senjata lontar lainnya, Tumbuk Lada digunakan untuk menghadapi lawan secara langsung, “muka dengan muka.” Ini menegaskan prinsip orang Melayu: tidak menyerang dari belakang, tidak lari dari persoalan, dan selalu menjunjung tinggi kehormatan dalam bertindak.

Sementara itu, tombak menjadi salah satu senjata yang paling lama digunakan dalam sejarah peradaban Melayu-Islam. Pada masa kerajaan, tombak digunakan prajurit sebagai senjata infanteri, dan oleh masyarakat umum sebagai alat berburu atau mempertahankan wilayah. Karena pembuatannya tidak membutuhkan banyak logam, tombak menjadi pilihan ekonomis dan populer pada masa lalu.
Nilai tombak bagi masyarakat Melayu melampaui fungsinya dalam pertempuran. Di lingkungan kerajaan, tombak menjadi simbol legitimasi kekuasaan, penanda kehormatan, dan status sosial. Meski perannya menurun setelah hadirnya senjata api, tombak tetap dilestarikan melalui seni bela diri silat, upacara adat, dan koleksi museum menjadikannya bagian penting dari identitas budaya Melayu yang terus hidup hingga kini.
Pada Selasa (9/12/2025), Kepala UPT Museum Sang Nila Utama, Tengku Leni, menyampaikan bahwa koleksi senjata tradisional Melayu merupakan warisan intelektual yang tidak boleh dipandang sekadar benda lama.
"Setiap senjata memiliki makna budaya yang penting bagi generasi masa kini. Setiap keris, setiap tombak, dan setiap Tumbuk Lada memiliki kisah, nilai, dan falsafah yang membentuk jati diri masyarakat Melayu,” ungkapnya.


Komentar Via Facebook :