Neo-Nazi Masuk Sekolah: Alarm Keras atas Kegagalan Negara dan Kapitalisme Digital
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan penggeledahan sebuah rumah di wilayah Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terkait dugaan keterlibatan salah satu penghuni rumah dengan paham radikal Neo-Nazi atau radikal kiri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penggeledahan berlangsung pada Selasa malam (23/12/2025), dimulai sekitar pukul 20.00 WIB hingga 23.30 WIB.
Sejumlah personel Densus 88 tampak mendatangi lokasi menggunakan kendaraan taktis Barakuda dan dilengkapi persenjataan lengkap.
“Mulainya sekitar jam delapan malam sampai kira-kira setengah dua belas,” ujar salah seorang warga sekitar kepada wartawan, Rabu (24/12/2025).
Dalam proses penggeledahan, tim Densus 88 juga menggunakan perangkat robot khusus, yang diduga difungsikan untuk mendeteksi keberadaan benda mencurigakan atau berbahaya di dalam rumah.
Terafiliasi Grup WhatsApp Radikal
Informasi yang diperoleh menyebutkan, penggeledahan dilakukan terkait seorang penghuni rumah yang diduga terafiliasi sebagai anggota aktif dalam sebuah grup WhatsApp yang menyebarkan paham radikal Neo-Nazi. Individu tersebut diketahui merupakan pelajar, warga Garut kelahiran Bandung.
Yang bersangkutan diduga kerap membagikan konten berbahaya, mulai dari video dan foto bom pipa, hingga tutorial pembuatan peluru, di dalam grup tersebut.
Sebelum penggeledahan dilakukan, tim Densus 88 diketahui sempat menjemput pelajar tersebut di Kota Bandung, kemudian membawanya ke Garut untuk menjalani asesmen awal oleh tim khusus.
Neo-Nazi Masuk Sekolah: Alarm Keras atas Kegagalan Negara dan Kapitalisme Digital
Kasus pelajar di Garut yang terpapar paham Neo-Nazi bukan sekadar perkara keamanan atau kriminalitas remaja.
Dari sudut pandang sosialis, ini adalah gejala busuk dari sistem sosial yang timpang, di mana negara abai, pendidikan kehilangan ruh ideologisnya, dan kapitalisme digital dibiarkan mencetak kesadaran palsu di kepala generasi muda.
Neo-Nazi bukan muncul dari ruang hampa. Ia tumbuh subur di tanah yang gersang oleh keadilan sosial, di masyarakat yang membiarkan ketimpangan ekonomi, keterasingan sosial, dan frustrasi kelas bekerja tanpa jawaban.
Ketika pelajar hidup dalam sistem pendidikan yang kering nilai, minim kesadaran sejarah, dan hanya dijejali target angka serta disiplin pasar, maka ideologi paling reaksioner sekalipun bisa tampak “menarik” dan “heroik”.
Ekstremisme Kanan adalah Anak Kandung Kapitalisme
Neo-Nazi adalah ideologi kanan ekstrem yang lahir dari ketakutan kelas dominan kehilangan privilese. Ia selalu hadir saat krisis ekonomi, saat kapitalisme gagal menyejahterakan rakyat, lalu mencari kambing hitam: ras, agama, imigran, atau kelompok minoritas.
Ketika pelajar Indonesia yang notabene hidup di negara dengan ketimpangan sosial akut terpapar ideologi ini, maka yang patut disorot bukan semata anaknya, melainkan sistem yang membuat anak muda kehilangan orientasi kelas dan solidaritas sosial.
WhatsApp dan media sosial hanyalah alat. Yang lebih berbahaya adalah isi ideologis yang beredar tanpa tandingan narasi progresif. Negara sibuk mengatur seragam dan upacara, tetapi lalai membangun pendidikan kesadaran kritis.
Kurikulum sejarah disterilkan, diskursus ideologi dipersempit, dan pemikiran kritis sering dicurigai. Ironisnya, justru ideologi fasis asing bisa masuk tanpa perlawanan intelektual.
Pelajar Itu Bukan Pelaku Utama, Mereka Korban
Dari kacamata sosialis, pelajar yang terpapar Neo-Nazi adalah korban alienasi sosial. Mereka hidup di tengah sistem yang tidak memberi harapan, tidak menawarkan cita-cita kolektif, dan gagal menanamkan nilai solidaritas.
Ketika negara hadir hanya dalam bentuk aparat penindakan, bukan pendidikan pembebasan, maka anak-anak muda dibiarkan mencari identitas di lorong gelap ideologi ekstrem.
Penindakan semata tanpa pembinaan ideologis hanya akan memadamkan api di permukaan, bukan mematikan bara di dalam.
Jika negara hanya datang dengan borgol, bukan dengan kesadaran, maka ekstremisme hanya akan berganti wajah, bukan hilang.
Pertanyaan Kelas yang Harus Diajukan
Mengapa ideologi fasis bisa masuk ke benak pelajar, sementara ideologi keadilan sosial, anti-penindasan, dan solidaritas kelas nyaris absen?
Mengapa sekolah takut bicara ideologi, tetapi membiarkan anak didik belajar ideologi kebencian dari gawai mereka?
Mengapa negara sibuk memerangi “radikalisme” tanpa pernah membongkar akar ketimpangan yang melahirkannya?
Kasus pelajar Garut adalah peringatan keras: jika negara terus membiarkan pendidikan tunduk pada logika pasar, jika kesadaran kelas tidak pernah diajarkan, dan jika solidaritas sosial tidak ditanamkan sejak dini, maka fasisme dalam bentuk apa pun akan selalu menemukan jalannya.
Melawan Neo-Nazi tidak cukup dengan razia dan penangkapan. Ia hanya bisa dikalahkan dengan pendidikan kritis, keadilan sosial, dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil. Tanpa itu, kita hanya sedang memanen akibat dari sistem yang kita biarkan rusak.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred ranahriau.com, Pengamat Sosial, aktif diberbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan.


Komentar Via Facebook :