Peringatan Hari Ibu: Perayaan yang Manis, Sistem yang tetap Kejam
RANAHRIAU.COM- Hari Ibu kembali dirayakan. Bunga, ucapan manis, poster penuh senyum. Namun di balik perayaan simbolik itu, ada ironi besar yang sengaja disembunyikan: jutaan ibu tetap hidup dalam tekanan sistem ekonomi yang rakus dan patriarkal.
Hari Ibu kerap direduksi menjadi seremoni emosional, bukan momentum politik. Ibu dipuja sebagai “pahlawan keluarga”, tapi kerja mereka mengandung, melahirkan, mengasuh, dan merawat tetap dianggap bukan kerja produktif.
Kapitalisme cerdik: memanfaatkan kerja reproduktif ibu secara gratis, lalu menjual hasilnya sebagai “nilai keluarga”.
Negara ikut bersandiwara. Pidato-pidato memuja peran ibu, tetapi kebijakan publik absen. Upah buruh perempuan tetap rendah, cuti melahirkan minim, jaminan kesehatan timpang, dan beban ganda, kerja di rumah dan kerja di luar terus dinormalisasi. Ibu dipuji, tapi haknya ditawar.
Sosialisme memandang ibu bukan objek belas kasih, melainkan subjek perjuangan kelas. Ketidakadilan yang dialami ibu bukan soal nasib, melainkan konsekuensi langsung dari sistem yang menumpuk keuntungan di atas penderitaan.
Selama rumah tangga dipisahkan dari analisis ekonomi, selama kerja ibu dianggap “kodrat”, penindasan akan terus diwariskan.
Hari Ibu seharusnya menjadi hari gugatan.
Gugatan atas sistem yang memeras tenaga, waktu, dan tubuh perempuan. Gugatan agar kerja reproduktif diakui, dilindungi, dan dijamin negara. Gugatan agar kesejahteraan keluarga tidak bergantung pada pengorbanan ibu semata.
Merayakan ibu tanpa memperjuangkan keadilan sosial hanyalah kemunafikan kolektif. Karena menghormati ibu bukan soal ucapan, tapi keberanian mengubah sistem yang selama ini hidup dari pengorbanan mereka.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred Ranahriau.com, Pengamat Sosial, aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.


Komentar Via Facebook :