Sinyal Merah di Riau: Tiga Kabupaten Resmi darurat Hidrometeorologi, Pemerintah Siagakan Alat Berat

Sinyal Merah di Riau: Tiga Kabupaten Resmi darurat Hidrometeorologi, Pemerintah Siagakan Alat Berat

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM – Riau resmi memasuki fase genting. Tiga daerah sekaligus—Rokan Hulu (Rohul), Indragiri Hilir (Inhil), dan Siak—telah menekan tombol Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi. Mereka menjadi barisan pertama yang mengibarkan bendera waspada menghadapi musim hujan yang mulai menunjukkan taringnya.

Kepala BPBD Damkar Riau, Edy Afrizal, memastikan bahwa penetapan status ini bukan langkah berlebihan, melainkan bentuk antisipasi keras menghadapi potensi banjir dan longsor yang diperkirakan menerjang Riau hingga awal 2026.

“Tiga daerah sudah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi: Rohul, Inhil, dan yang terbaru Siak,” tegas Edy, Minggu (7/12/2025).

Provinsi Turun Tangan: Posko Didirikan, Alat Berat Disiagakan

Tak menunggu bencana menghantam, Pemerintah Provinsi Riau langsung bergerak. Menyusul penetapan Status Siaga oleh Plt Gubernur SF Hariyanto pada 1 Desember lalu, Pemprov resmi mendirikan posko koordinasi untuk memantau dan merespons potensi ancaman hidrometeorologi.

Langkah awal ini mencakup sosialisasi massif, peningkatan pemantauan lapangan, hingga penyediaan peralatan taktis.

Yang paling mencolok: 21 unit alat berat serta truk khusus kini disiagakan di titik-titik rawan bencana. Koordinasi ketat dilakukan bersama Dinas PUPR Riau untuk memastikan semua perangkat siap diterjunkan kapan saja.

“Persiapan kita tahap awal ini sosialisasi, dirikan posko dan pemantauan. Termasuk koordinasi dengan PUPR untuk siaga di lokasi rawan bencana,” jelas Edy.

Surat Edaran Darurat: Bupati/Wali Kota Diminta Siap Tempur

Pemprov Riau juga telah mengirimkan surat edaran resmi kepada seluruh kabupaten/kota. Isinya jelas: tingkatkan kewaspadaan, mitigasi wilayah rawan, dan siapkan langkah cepat untuk menghindari jatuhnya korban jika bencana melanda.

Dengan prediksi musim hujan yang akan berlangsung hingga Januari 2026, pemerintah tak ingin ada daerah yang lengah.

“Kami sudah melakukan mitigasi daerah rawan banjir dan longsor se-Riau. Daerah yang berpotensi bencana juga sudah disampaikan ke kabupaten/kota,” ujar Edy.

Arahan ini diharapkan menjadi pemicu bagi pemda untuk bergerak lebih cepat dalam mengurangi risiko bencana. Mulai dari penataan drainase, pembersihan parit, patroli sungai, hingga menyiagakan relawan di tingkat desa.

Riau Masuk Fase Rawan dan Waktunya Bertindak, Bukan Menunggu

Penetapan status siaga di Rohul, Inhil, dan Siak menjadi sinyal keras bahwa ancaman hidrometeorologi di Riau bukan isapan jempol. Banjir dan longsor bisa terjadi kapan saja, terutama di wilayah rendah dan daerah dengan kontur tanah labil.

Dengan langkah antisipatif yang mulai digerakkan pemerintah, kini bola panas berpindah kepada masyarakat dan aparat daerah: siap atau tidak, musim ekstrem sudah datang.

Riau kini berada di persimpangan. Mitigasi cepat dapat menyelamatkan ribuan jiwa — tetapi kelalaian sekecil apa pun bisa berubah menjadi bencana besar.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :