Tren Kopi Keliling: Sensasi Ngopi Murah dan Kekinian, Merajai Jalanan
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Beberapa tahun belakangan, ada satu pemandangan yang makin akrab di jalanan kota-kota besar di Indonesia termasuk Kota Pekanbaru, yaitu penjual kopi keliling.
Bukan sekadar gerobak kopi tradisional, melainkan gerobak, sepeda, atau bahkan motor yang dimodifikasi khusus, lengkap dengan mesin espresso mini, grinder, dan aneka biji kopi pilihan.
Tren ini meledak dan berhasil menarik perhatian para pencinta kopi, menawarkan pengalaman ngopi yang unik dan praktis.
Fenomena kopi keliling bukan hanya soal menjual secangkir kop, ada nilai lebih yang ditawarkan, dengan pengalaman ngopi yang berbeda.
Kopi gerobak keliling ini telah menjadi tren. Dari Jalan Sudirman, Nangka, Soebrantas, Arifin Ahmad, Tuanku Tambusai hingga ke kawasan Naga Sakti dan jalan-jalan lainnya, kopi gerobak keliling ini bisa dijumpai. Bahkan keberadaan usaha kopi gerobak keliling ini hanya berjarak puluhan meter saja antara satu sama lainnya.

Masing-masing hadir dengan gaya dan merek berbeda, menawarkan kopi dingin siap saji. Aroma kopi yang samar terbang bersama angin lalu lintas, sesekali dibarengi suara deru kendaraan yang berhenti sebentar untuk membeli segelas kopi aneka rasa pelepas dahaga.
Salah satu yang cukup ternama adalah Kopiers, gerobak kopi modern yang beroperasi di berbagai ruas jalan di Pekanbaru, salah satunya di Jalan Tuanku Tambusai Ujung, samping Universitas Muhammadiyah Riau. Gerobak ini tampak rapi, dengan pendingin kecil di bagian depan dan branding yang sederhana namun menarik.
Setiap hari, dari pukul sembilan pagi hingga enam sore, seorang pria bernama Arif setia melayani para pembeli dengan senyum ramah. Ia mengenakan topi berwarna merah dengan brand Kopiers, sibuk menuang biang kopi ke dalam cup yang sudah berisi es batu.

"Saya biasanya habis 150-250 cup per hari, kadang lebih kalau sedang ramai, cuma beberapa waktu terakhir karena cuaca yang hujan terus ya paling ga habis 150 cup. Untuk varian-nya paling laris tetap kopi gula aren dan americano tapi banyak juga yang suka varian butterscotch atau non-kopi seperti Milo dan matcha," kata Arif penjual kopi Kopiers, Selasa (9/12/2025) sore.
Arif sudah menjalani profesi sebagai penjual kopi keliling selama 6 bulan terakhir. Menurutnya sistem kerja di Kopiers cukup menarik. Ia menerima gaji bulanan tetap, dan akan mendapatkan insentif tambahan jika penjualan harian melebihi target tertentu. “Alhamdulillah, hampir setiap bulan saya dapat insentif bersyukurlah bisa kerja dan dapat bonus jika melebihi target penjualan," ujarnya.
Ia mengaku betah dan menikmati pekerjaannya kini karena tidak hanya memberikan penghasilan lebih baik, tapi juga interaksi yang hangat dengan pelanggan setiap harinya. “Sejak jualan kopi, kebutuhan cukup terpenuhi. Bersyukur banget bisa dapat langganan di sini. Tempatnya juga strategis, pelanggan rame terus," ucap Arif.
Salah satu pelanggan kopi gerobak Kopiers Arif adalah Dhea Ananda salah seorang mahasiswa Umri. Hampir setiap hari, ia datang membeli kopi untuk penyengar hari-nya. "Saya anaknya ngopi banget, saya sering beli biar bisa ngampus dengan semangat. Kadang saya juga ajak temen-temen buat beli, karena rasanya pas, nggak kemanisan dan tetap strong," ujarnya.
Dhea mengaku sudah mencoba berbagai kopi keliling yang lain, tapi menurutnya Kopiers punya rasa yang lebih konsisten. "Awalnya iseng aja beli, tapi ternyata cocok. Sekarang tiap hari beli terus. Lagipula, pelayanannya juga cepat dan ramah, jadi nggak buang waktu,” terangnya.
Selain soal rasa, Dhea juga menilai harga kopi keliling sangat bersahabat. "Buat yang doyan ngopi, tapi mau ngirit, ini solusi banget. Dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 12.000, udah bisa dapat kopi yang kualitasnya hampir sama kayak di cafe," kata Dhea.
Sementara itu, gerobakan kopi bernama Tepi Jalan juga menjadi salah satu kopi keliling yang diminati kalangan anak muda, salah satunya berada di Jalan Naga Sakti, Pekanbaru.
Khalil, sang penjual, sudah berjualan sejak empat bulan yang lalu. Gerobaknya menggunakan sepeda listrik yang dimodifikasi dengan boks pendingin.
"Kalau lagi ramai, saya bisa habis 100 cup. Paling laku itu kopi susu gula aren dan butterscotch. Banyak juga yang pesan kopi dengan rasa strong, bahkan untuk yang non coffe pun banyak yang pesan seperti coklat dan matcha,” ujar Khalil.
Menurut Khalil, bekerja menjadi pedagang kopi keliling seperti ini memberi fleksibilitas dalam menentukan jam kerja dan bisa membantu sedikit perekonomian ia dan keluarga. “Ya walaupun saya masih muda, saya ingin membantu perekonomian keluarga saya, paling tidak untuk keperluan saya sendiri sudah sangat tercukupi karena kadang bonus nya itu bisa dapat per-minggu,” jelasnya.
Fenomena menjamurnya gerobakan kopi keliling seperti Kopiers dan Kopi Ajoe bukan hanya sebatas tren minum kopi kekinian. Kehadirannya turut menjadi penopang ekonomi bagi banyak warga Pekanbaru, terutama yang sebelumnya bekerja dengan penghasilan tidak menentu. Usaha ini tumbuh dengan cepat, fleksibel, dan pas dengan karakter konsumen kota yang menyukai kopi serta mobilitas tinggi.


Komentar Via Facebook :