Hidupkan Masjid jadi Rumah Bersama
IMM Kuansing Rayakan Milad Muhammadiyah ke-113 dengan Cara Paling Sederhana
Foto: ist
KUANTAN SINGINGI, RANAH RIAU.COM- Pagi yang tenang di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Pl. Godang Kari berubah hangat saat puluhan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kuantan Singingi datang dengan senyum, sapu, dan niat baik. Tanpa gegap gempita acara besar, mereka memilih cara yang paling dekat dengan hati masyarakat: gotong royong.
Kegiatan yang digelar Ahad, 6 November 2025 ini menjadi bagian dari penyambutan Milad Muhammadiyah ke-113. Namun bagi para kader, kerja bakti itu lebih dari sekadar rangkaian peringatan. Ia adalah bentuk penghormatan kepada nilai-nilai yang mereka pelajari sejak kecil: kebersamaan, kepedulian, dan pelayanan.
Sejak pagi, para kader IMM bersama warga memulai pembersihan ruang utama masjid. Ada yang menyapu karpet, mengelap kaca, merapikan rak Al-Qur’an, hingga membersihkan area wudu yang menjadi tempat bernafasnya jamaah sebelum beribadah. Di halaman, beberapa lainnya menata lingkungan sekitar, memastikan masjid terlihat rapi dan nyaman untuk siapa pun yang datang.
Di sela kegiatan, Ketua Umum PC IMM Kuansing, Nopet Syaputra, menyerahkan mushaf Al-Qur’an kepada pengurus masjid—sebuah simbol kecil, namun bermakna besar.
“IMM selalu diajarkan bahwa kebermanfaatan tidak harus megah. Gotong royong ini adalah cara kami merayakan milad dengan menghadirkan kebaikan di tempat yang paling dekat dengan masyarakat,” ujarnya pelan namun hangat.
Perwakilan Takmir masjid pun tampak terharu melihat antusiasme para mahasiswa. “Bantuan seperti ini sering kali terlihat sederhana, tapi bagi kami sangat berarti. Kehadiran IMM hari ini membuat masjid terasa lebih hidup, lebih ramai oleh rasa kebersamaan,” tuturnya.
Bagi IMM, kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih masjid. Ia adalah ruang perjumpaan: antara generasi muda dan masyarakat, antara nilai dan tindakan, antara ajaran dan pengamalan.
Mereka berharap, langkah kecil di Masjid At-Taqwa ini bisa menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu berupa ceramah panjang. Kadang ia hadir dalam bentuk paling sederhana, dalam peluh yang mengalir saat mengepel lantai masjid, dalam senyum saat merapikan tempat wudu, atau dalam tangan yang saling membantu tanpa diminta.
Di usia 113 tahun Muhammadiyah, IMM Kuansing memilih cara yang paling manusiawi untuk merayakan: membenahi rumah ibadah yang menjadi denyut kehidupan masyarakat. Dan dari sana, mereka percaya, kebaikan akan terus mengalir.


Komentar Via Facebook :