Bahagia bersama Dakwah

Bahagia bersama Dakwah

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Perjalanan dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau kali ini membawa saya dan rekan-rekan ke kabupaten termuda di Provinsi Riau — Kepulauan Meranti.

Meski jauh dan menempuh perjalanan panjang, ada kebahagiaan tersendiri yang tak tergantikan: kebahagiaan karena berdakwah dan bersilaturahim.

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini rombongan dipimpin langsung oleh Ketua PWM Riau, Ustaz Dr. H. Hendri Sayuti, M.Ag, didampingi Bendahara PWM, Drs. H. Adrian Ali, MH, serta para Wakil Ketua seperti Dr. Yusri Rasul, Dr. Agus Mandar, Dr. Afrizal Muhammad Nur, dan Drs. Azwir Alimuddin.

Kami hadir memenuhi undangan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Meranti untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan bersama ortom dan majelis di wilayah tersebut.

Dakwah yang Penuh Canda dan Makna

Perjalanan dakwah seperti ini bukan hanya tentang ceramah atau konsolidasi organisasi.

Di sepanjang perjalanan, kami berdiskusi tentang banyak hal — dari topik ringan hingga pembahasan serius tentang dakwah dan pemberdayaan umat.

Kadang diselingi tawa dan canda, kadang diiringi bincang reflektif yang lahir dari pengalaman lapangan.

Salah satu “tradisi” kami dalam safar dakwah ini adalah kebersamaan di setiap jeda perjalanan — makan, minum, dan bercengkerama.

Bendahara kami, Pak Adrian, sering berseloroh, “Setiap dua jam harus makan-minum!” Candaan ringan itu justru membuat perjalanan panjang terasa singkat dan penuh energi. Di sanalah kami merasakan makna bahagia bersama dakwah.

Ide Besar yang Lahir dari Perjalanan

Dalam momen-momen kebersamaan itulah sering muncul ide-ide segar dan solusi nyata untuk kemajuan umat.

Di sela perjalanan, kami sempat meninjau kebun sawit milik salah satu anggota PWM. Di kebun itu tumbuh pula tanaman nenas yang subur.

Melihat itu, Ketua PWM spontan meminta bibitnya untuk dikembangkan di kebun lain. Hal kecil, namun mencerminkan semangat kemandirian dan pemberdayaan ekonomi yang menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah.

Dari peristiwa sederhana semacam itu, kami belajar bahwa gagasan besar tidak selalu lahir di ruang rapat.

Ia bisa muncul di jalan, di kapal, di kebun, atau di sela tawa rombongan dakwah. Kebersamaan yang tulus melahirkan sinergi, dan sinergi yang kuat menumbuhkan produktivitas dakwah.

Ketika Rapat Tak Lagi Efektif

Saya sampai pada satu kesimpulan: perjalanan dakwah harus menjadi agenda rutin PWM. Tidak semua gagasan dapat muncul dari rapat formal.

Kadang, rapat justru membatasi cara pandang dan memicu kejenuhan. Diskusi yang awalnya substantif bisa berubah menjadi debat kusir, bahkan melahirkan sindiran yang tidak produktif.

Sebaliknya, dalam perjalanan dakwah, suasana lebih cair, pikiran lebih jernih, dan hati lebih terbuka.

Energi ukhuwah tumbuh alami. Saat meja rapat terasa membosankan, maka jalan dakwah menjadi ruang inspirasi yang menyegarkan.

Penutup: Bahagia Itu Bernama Dakwah

Dari perjalanan ini saya belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kenyamanan, tetapi pada kebermaknaan.

Kebersamaan dalam dakwah menghadirkan rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan menguatkan komitmen untuk terus berkhidmat bagi umat.

Maka benar adanya — bahwa bahagia itu sederhana, yakni ketika kita bahagia bersama dakwah.

 

Penulis : Dr. Imron Rosyadi, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau. 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :