Puisi tentang Perlawanan: Ikrar Jebat di Gambut Rupat, karya Elviriadi

Puisi tentang Perlawanan: Ikrar Jebat di Gambut Rupat, karya Elviriadi

Ikrar Jebat di Gambut Rupat

Oleh : Elviriadi

Seekor Camar 

Mengitari Rupat

Berputar Menggaris Awan

 

Sungguh, dari jauh yang gelap Ia mengirim gumam;

“Telah kusetubuhi seluruh negeri di tubuhmu,

tapi sayang, aku tak bisa merangkai kata karena tanah dan pasir yang dulu membuncah,

kini berdesing deru mesin mesin pongah…

 

bagi teluk kepalsuanmu yang bisu,

bandar bengkalis yang diam-diam bengis…

dan pekanbaru- jakarta

 

Kami hanyalah seonggok pulau yang hampa

Tak lagi lunak pasir diinjak

dan riak gelombang singgah di perahu patah

 

Gundukan pasir itu semakin menggunung

Pohon nyiur tak berdaun itu telah tumbang

Pantai itu memakan gambut sampai hanyut dibawa ke tengah laut…

 

Maka sebelum pulau ini tenggelam tak dikenang

izinkan aku terbang, mencari kerikil dan batu-batu bio mencari bukit dan gunung-gunung.

Akan aku tanam rindu peradaban Melayu

 

Di atas pulau gambut ini, peluh kami pernah tumpah, dibawa anak kepiting yang memanjat di akar-akar bakau.

Sampan tua yang mengapung, di atas harapan nan sirna

Tuan berdasi kau puja jua…

 

Rupat Terbelah Gambut Merana

Di iris kanal banjirpun mendera

Kebun kebun, ialah kuburan jelata

 

Hapuskan memori

pada kenuduk, pada rimba, pada anak pelanduk, burung camar, dan kepak kepak elang yang patah….

 

Inilah Rupat Tanah duka yang terbelah patah ditengah garang si engkek pongah.

 

Tapiiiiiiiiiii….

Ingat Tuan Takur Rupat Tersungkur

 

Kami Melayu Jebat tak kenal Mundur…

 

“Lebih baik mati berdiri

Daripada Hidup Berlutut"...

 

Penulis : Elviriadi, Penulis puisi dan cerpen Lebih dikenal sebagai ahli lingkungan hidup dan kehutanan, Dosen, Akademisi dan Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Riau

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :