Dana BOS Ratusan Miliar Untuk Pendidikan

Orang Tua Siswa Kualahan Beli Kuota Paket Belajar di Masa Pandemi Covid-19

Orang Tua Siswa Kualahan Beli Kuota Paket Belajar di Masa Pandemi Covid-19

Sekretaris LSM KPH-PL, Joko Purnomo, SH

DURI, RANAHRIAU.COM - Sangat miris melihat dunia pendidikan di era serba eletronik pada saat ini. Mengapa tidak, Pemerintah melalui APBN/APBD sudah menggelontorkan anggaran ratusan miliar untuk di Dunia Pendidikan Indonesia, dengan tujuan untuk meringankan beban para orang tua siswa. Namun, faktanya terbalik yang terjadi di lapangan

Lebih rinci, Joko mengutarakan, kemaren saya coba menghitung pengeluaran anak-anak dalam situasi belajar online setiap harinya, dengan jumlah kuota yang mereka habiskan untuk belajar dari pukul 09.00 WIB pagi sampai dengan Pukul 12.00 siang, dan itu saya lakukan selama 3 hari. 

Ternyata, jika di nilai rata-ratakan satu siswa anak belajar menghabiskan 0,5 sampai 1 GB sehari. Masing masing anak menggunakan provider Telkomsel dan Tri (3). Untuk Telkomsel, data 0,5 -1 GB dijual 12 ribu. Sementara, untuk Tri dijual 8 ribu untuk isi ulang. Khusus kartu tri tidak semua daerah bisa terjangkau. 

Jika mereka belajar 5 kali dalam seminggu, maka sebulan ada 20 hari, maka untuk kartu telkomsel, akan menghabiskan Rp 240 ribu perbulan. Sementara, untuk kartu Tri menghabiskan Rp 160 ribu perbulan. Ini total pemakaian kuota untuk 1 anak dalam sebulan. Jika 2 anak yang sekolah dalam 1 keluarga adalah jumlah 480 ribu perbulan, dan kartu Tri 360 ribu perbulan.

Salah seorang temannya mengatakan, mereka membeli paket bulanan tersebut sampai 2 kali sebulan dengan harga paket antara 75 ribu sampai 110 ribu untuk satu paket (Telkomsel). Untuk Tri antara 25 ribu sampai 60 ribu untuk satu paket. 

"Yang jadi pertanyaan bagaimana jika satu keluarga punya 3 dan 4 anak sekolah," ungkap salah satu Pemerhati Dunia Pendidikan Joko Purnomo, SH kepada wartawan, Jumat (30/7/2021) dan juga menjabat Sekretaris Pelaksana Harian Komunitas Peduli Hukum dan Penyelamatan Lingkungan (LSM KPH-PL).

Lanjutnya, jika dibandingkan dengan pendapatan keluarga miskin yang penghasilannya antara Rp 425 ribu - Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1 juta, maka pembelajaran online sungguh sangat memberatkan menyiksa para orang tua siswa.

Andaikan orang tua mengalihkan pemakainan mereka ke wifi (Indi Home), maka orang tua harus mengeluarkan uang antara 300 ribu sampai 400 rb perbulan.

"Kepada instansi Pemerintah dan Dinas terkait, mohon dipikirkan solusinya," ujar Joko.

Dana BOS yang setiap tahunnya di gelontorkan oleh Pemerintah yang mencapai ratusan milyar ini, mohon di audit kembali demi mencegah timbulnya potensi Korupsi berjama'ah di seluruh Indonesia.

Dan sangat diharapkan untuk tidak jangan biarkan masyarakat memikirkannya sendiri walaupun masyarakat tidak mengeluh seluruhnya.

Dengan adanya suara di Sosmed dan beberapa media masa, semoga Menteri Pendidikan Indonesia, Komisi Pemberatasan Korupsi, Kejaksaan dan Kepolsian, hal ini harus segera bertindak, memberikan solusi terbaik untuk pendidikan anak-anak Indonesia.

Solusi yang bisa kami berikan semisalnya, jika memang pendidikan diberlakukan online maka ada fasilitas gratis dari pemerintah untuk akses online tersebut, dan harus di umumkan secara terbuka di setiap sekolah. 

Karena ini adalah pengeluaran tambahan bagi seluruh orang tua siswa di luar Biaya pendidikan yang dinilai sangat fantastis mahal dan gejolak ekonomi yang dirasakan masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini.

"Terakhir, bahkan sebagian orang tua siswa menyampaikan, kami para orang tua menginginkan sekolah di normalkan kembali seperti sedia kala. Sehingga bisa proses belajar mengajar secara langsung dan cepat di mengerti oleh anak-anak sekolah," pungkasnya.

 

Penulis : Amir

Editor : Eriz
Komentar Via Facebook :