Peralihan Blok Rokan Dari CPI Ke Pertamina Tuai Masalah, SPNC Taja Diskusi

Peralihan Blok Rokan Dari CPI Ke Pertamina Tuai Masalah, SPNC Taja Diskusi

Pekanbaru, RANAHRIAU.COM - Serikat Pekerja Nasional Chevron (SPNC) taja diskusi dalam bentuk Stadium General dengan tema "Rokan Menuju Pertamina, Siapkah Kita?". Kegiatan ini dilaksanakan di hotel Mutiara Merdeka pada Kamis (12/03/20). 

 

Stadium general dihadiri oleh seluruh serikat pekerja Pertamina se Indonesia. Hadir juga dalam kegiatan ini Faisal Yusra selaku President Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI) bertindak sebagai Keynote Speaker, dan juga dihadiri Ari Gumilar, Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) yang juga menjadi salah satu pembicara pada acara ini. 

 

Persiapan peralihan Blok Rokan yang merupakan tambang minyak terbesar kedua se Indonesia, dari PT. Chevron Pacific Indonesia ke PT. Pertamina telah menimbulkan polemik berkepanjangan, bahkan tambang minyak yang mensupport lebih dari 30 persen dari total kebutuhan energi minyak nasional itu saat ini telah mengalami proses penurunan produksi sekitar 30.000 barel setiap tahunnya dari tahun 2018 yang lalu. 

 

"Berdasarkan regulasi baik peraturan menteri dan lainnya, yang mengatur alih kelola blok terminasi sudah mengamanatkan bahwa pengelola existing harus memberikan informasi dengan pengelola berikutnya terkait akses data baik itu SDM, proses, kontrak dan segala hal, tapoli hingga detik ini informasi itu tak pernah diberikan, bahkan CPI menutup diri untuk ini", jelas Ari Gumelar President FSPPB. 

 

Senada dengan hal itu, President KSPMI mengatakan, "Pengelolaan blok tidak boleh berhenti, karena ini sudah berproduksi, tapi ternyata dengan terjadinya alih kelola ini pihak Chevron tidak mau lagi melakukan investasi pada proses produksi, sehingga jika dianalisa, hasil produksi minyak pada Agustus 2021 akan sampai pada 140.000 barel/ hari, dimana angka normalnya adalah 210.000 barel/ hari", ungkap Faisal Yusra. 

 

"Berdasarkan amanat undang-undang, pihak Chevron harusnya tetap menjaga produksi pada level kewajaran, karena jika tidak akan berimbas pada devisa negara", lanjut Faisal. 

 

Bagi KSPMI, Chevron tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan masalah peralihan Blok Rokan ke Pertamina, karena Chevron tidak mau berbagi data, dan menutup diri untuk menerima investasi yang akan diberikan Pertamina untuk menjaga lifting minyak tetap diangka yang normal. Seperti yang disampaikan oleh Fauzan Muttaqin Sekjend KSPMI. 

 

"Deadline persiapan peralihan harusnya sudah terjadi setahun yang lalu, dan hari ini sudah sangat terlambat, jadi harusnya sudah ada itikad baik dari Chevron, buktikan kalo dia adalah operator yang baik dan bertanggungjawab", timpal Fauzan. 

 

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kontrak PT. CPI akan berakhir pada 8 Agustus 2021 yang akan datang, walaupun sudah sangat terlambat, tapi masih ada waktu lebih kurang 17 bulan lagi untuk melakukan persiapan peralihan. Dan yang bisa mendesak agar proses ini bisa segera berjalan adalah Pemerintah Indonesia dalam hal ini SKK Migas dan Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 

 

"Kita meminta pemerintah harus tegas, baik itu SKK Migas, Kementrian ESDM dan yang lainnya, karena kejadian ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi negara", ujar Ketua Umum SPNC, Ali Rekso Tinamtu

Editor : Muhammad Saleh
Komentar Via Facebook :