Pola Asuh berjamah
Renungan pendidikan di Hari Sarjana Nasional
RANAHRIAU.COM- Tanggal 29 September adalah Hari Sarjana nasional. Terlepas dari kenapa dan kapan mulai ditetapkan peringatan Hari Sarjana Nasional ini, tapi saya yakin banyak orang akan mengaitkannya dengan pendidikan dan sistemnya, kecerdasan, lapangan pekerjaan bahkan mungkin pola asuh.
Saya akan mencoba mengaitkan sedikit kehidupan Albert Einstein dan pendidikan dalam abad ini, dan apa yang mungkin dapat kita lakukan di tingkat akar rumput baik dalam keluarga sebagai entitas masyarakat terkecil dan atau sebagai masyarakat di suatu lingkungan.
Masa kecil Albert Einstein dan pola asuh keluarganya.
Kita semua tahu bahwa pada masa kecil si ilmuan jenius ini mengalami keterlambatan bicara, kurang pandai mengendalikan emosi, pihak sekolah mengeluhkan sikapnya yang cenderung hanya mempelajari apa yang dia inginkan, berbakat musikal, dan seterusnya.
Dukungan pola asuh keluarga (ayah,ibu, 2 pamannya) turut menghantar perkembangan masa-masa belajarnya, sedemikian sehingga suatu saat walau masih duduk di bangku SMA dia mengadu nasib dan ikut ujian masuk universitas dengan hasil mempunyai nilai uggul pada matematika dan fisika tapi gagal di pelajaran-pelajaran yang lain. Setelah menamatkan SMA nya itu akhirnya kuliah karena keunggulannya dalam tes tersebut. Selepas lulus kuliah Enstein terus melakukan penelitian, menulis sangat banyak jurnal ilmiah, menjadi pembicara di banyak tempat dan juga mendapatkan nobel.
Mari kita berandai-andai, bagaimana jika keluarga Einstein pada saat itu menyerah dengan permasalahan Albert Einstein pada masa balita dan masa sekolahnya. Tapi sekali lagi karena pola asuh keluarganya yang turut menghantarkan dia menjadi sarjana dan ilmuan pada saat itu. Walaupun menjadi sarjana mungkin bukan penentu kebahagiaan dan kesuksesan hidup seorang anak pada saat itu, dan begitu juga masa sekarang.
Inspirasi dari pernyataan-pernyataan Albert Einstein dalam situasi kekinian
Ada yang menarik tentang bakat dan kejeniusan menurut si Bapak Fisika ini seperti kutipan-kutipan berikut:
“I have no special talent. I am only passionately curious.” – Albert Einstein
“The true sign of intelligence is not knowledge but imagination.” – Albert Einstein.
“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.” – Albert Einstein
“Information is not knowledge.” – Albert Einstein.
Dari kata-katanya diatas, saya jadi terpikir apakah kita sudah menciptakan lingkungan pendidikan bagi generasi penerus yang memberi ruang seluas-luasnya sehingga “rasa ingin tahu” dan imajinasinya menjadi merdeka tanpa beban terjejali informasi yang anak tidak butuhkan dalam pengembangan imajinasi dan rasa ingin tahunya yang unik, serta merdeka mendefinisikan keunggulan sejati uniknya (bukan keungulan relatif hasil perbandingan dan persaingan dengan orang lain). Suatu lingkungan pendidikan yang bukan hanya proses menyampaikan informasi dalam sistemnya tapi mengakomodir pengasahan berpikir secara mandiri juga.
Usaha pemerintah di berbagai Negara
Saya tidak sedang mengatakan bahwa sistem pendidikan Indonesia atau global saat ini buruk dan juga tidak sedang mempromosikan homeschooling, serta menyalahkan pemerintah dan atau bersetuju untuk bersikap apatis atas kondisi pendidikan saat ini. Sistem pendidikan dan perkembangan kurikulumnya baik yang pemerintah Indonesia kerjakan maupun pemerintah-pemerintah lain secara global lakukan adalah usaha untuk meningkatkan pendidikan bagi masyarakatnya masing-masing.
Memikirkan kebutuhan pendidikan berjuta anak pasti tidaklah gampang. Berjalan menciptakan dan memperbaharui kurikulum oleh suatu pihak saja adalah tidak mungkin, apalagi di era revolusi 4.0. Segala sesuatu berubah secara sangat dinamis.
Pemerintah-pemerintah di seluruh dunia (termasuk pemerintah Indonesia) mencoba belajar dari sistem pendidikan dan kurikulum negara lain dan saling berjejaring. Mencoba bekerja sama dengan pemerintah lain dalam mengembangkan sistem pendidikan adalah suatu langkah positif yang patut diapreasiasi, terlepas dari apakah hasilnya nanti. Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dan SEAMEO Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) adalah salah satu contoh bentuk kerjasama pendidikan oleh kementrian pendidikan negara-negara yang ada di Asia. Dan saya beruntung pernah merasakan salah satu kursus yang diadakah oleh SEAMEO-SEAMOLEC, walaupun bukan seorang guru.
Tanggung jawab pendidikan di era 4.0
Tentu mengandalkan pemerintah saja dalam pengembangan pendidikan tidaklah cukup. Apalagi di era yang dalam hitungan detik telah memunculkan teknologi dan penemuan baru, seperti masa ini. Suatu era yang kemajuan iptek, aliran informasi dan pengumpulan & pemrosesan datanya, serta peluang penciptaan lapangan kerja baru dan memperoleh pendidikan dengan cara baru menjadi pisau bermata dua; sehingga penggunaanya memerlukan “latihan” kebijaksanaan.
Berlatih bijak untuk memilah dan mengadaptasikan informasi menjadi sesuatu yang berguna, sehingga hal-hal negatif seperti hoax, anarkisme, prejudice dan diskriminasi, hubungan komunikasi dan informasi yang bersifat iseng dan pemborosan, materialisme dan segala yang kita tidak sukai pada masa ini perlahan-lahan dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna bagi kehidupan.Berlatih bijak dalam memanfaatkan perkembangan teknologi yang tetap dapat memberi ruang secara merdeka pada “rasa ingin tahu” dan imajinasi anak, sehingga pembelajaran dan semangat menjadi pembelajar seumur hidup dapat berkobar.
“Bersinergi” pola asuh dalam lingkungan
Anak-anak adalah amanat yang Tuhan titipkan pada orang tua, tetapi mencari “keselamatan” pendidikan dan pola asuh pribadi & keluarga saja adalah tidak mungkin, karena semua orang di dunia ini saling terhubung. Hal-hal yang terjadi di lingkungan kita, sedikit banyaknya merobah pola hidup dan pergaulan kita. Oleh karena itu kepedulian pada generasi penerus sudah selayaknya menjadi gerakan bersama. Manusia secara alaminya adalah mahluk spiritual yang secara fitrah ingin berbagi dan mengabdikan diri pada sesama (terlepas dari apapun agama, keyakinan dan latar belakangnya).
Pertanyaan seperti apakah menciptakan kemajuan pendidikan dan kesejahteraan keluarga kita sambil memajukan pendidikan dan kesejahteraan keluarga-keluarga lain di lingkungan kita adalah sesuatu yang mungkin? Rasanya pertanyaan tersebut dapat dijawab jika dikotomi atas pemikiran seperti “selamatkan terlebih dahulu keluarga kita, baru selanjutnya menyelamatkan keluarga yang lain”; hendaknya ditinjau ulang. Setiap orang atau keluarga hendaknya mencoba melihat bahwa perkembangan setiap anak di lingkungannya adalah suatu yang berharga dan selayaknya juga seluruh keluarga di wilayah itu saling menjaga untuk belajar bersikap positif pada anak-anak di lingkungannya.
Perhatikan trend dari “guru sebaya” saat ini. Bukankah jika seorang anak diberi ruang untuk dapat saling belajar dan saling meneladani anak lainnya, proses pembelajaran menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi mereka?
Kesadaran bersama atas gerakan pola asuh lingkungan.
Kesadaran bersama seluruh keluarga akan kemajuan di lingkungannya akan membuat kemajuan itu lebih cepat, karena setiap orang berusaha mengerti dan belajar dalam proses itu. Semua keluarga akan saling menyemangati dalam proses pembelajaran dan perkembangan. Semua orang turut bergembira melihat kemajuan generasi penerus yang ada di lingkungan tersebut; mereka melihat bahwa memajukan potensi seorang anak adalah potensi memajukan suatu masyarakat, dan sebagai rasa syukur akan nikmatNya.
Potensi-potensi dari dalam masyarakat dapat bersinergi dalam kesadaran bersama. Potensi yang dimaksud misalnya munculnya perpustakaan masyarakat yang mulai memikirkan inklusi sosial tanpa memandang latar belakang penghuni di lingkungan tersebut. Masyarakat di lingkungan itu menjadi lebih spiritual sekaligus menjadi “sarjana” (ahli ilmu pengetahuan). Dan semua ini berawal dari kesadaran pendidikan dan pola asuh keluarga yang tidak berorientasi pada “keselamatan” sendiri, melainkan melangkah bersama dalam lingkungan yang terdiri dari beberapa keluarga.
Hasil dari riak gerakan literasi keluarga dalam masyarakat
Contoh kecil dari pelaksanaan kesadaran bersama itu misalnya mengajak anak kita bermain dengan teman sebaya di lingkungannya dalam suasana yang edukatif, seperti berani sportif dalam permainan dan mau berbagi dengan kawannya atau bahkan menjadi guru sebaya. Orang-orang tua akan saling berbagi pengalaman dalam pola asuh serta saling menyemangati dan menghargai perkembangan dalam keluarga lain. Ada sekelompok orang dalam masyarakat itu yang mendedikasikan dirinya dalam kesadaran bersama tersebut. Riak-riak gerakan literasi keluarga (terlepas apakan keluarga tersebut memasukan anak-anaknya dalam sekolah formal atau tidak) akan berpadu dalam gerakan literasi masyarakat dan gerakan literasi sekolah seperti yang diimpikan pemerintah saat ini, jika kesadaran bersama ini muncul.
Mainkan peran kita masing-masing
Tuhan telah menciptakan setiap orang dengan bakat, kesanggupan dan kesempatan yang beragam. Setiap orang adalah agen perubahan peadaban. Pertanyaannya, bagaimanakah setiap kita memainkan peran kita dalam keluarga dan masyarakat demi cinta & syukur pada Sang Pencipta?
Penulis : Dineu Herlina, Relawan literasi. Koordinator eksekutif pada Hidden Gems Story (HGS) saat ini tinggal di kota Pekanbaru, Email:dherlina.net@gmail.com
Hp/WA: 082116048759
Saran dan tanggapan dipersilakan ke email diatas.


Komentar Via Facebook :