DR. Elviriadi: Karhutla itu kolonialisme Peradaban
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan sudah sulit untuk di padamkan. Faktor penyebab utama bukan karena sulit menjangkau lokasi terbakar, melainkan faktor dominasi peradaban bisnis yang mengalahkan peradaban pribumi.
Demikian pernyataan yang dikeluarkan pakar lingkungan nasional DR.Elviriadi melalui Whatsapp Messenger, Ahad (18/08/2019).
Ya, krisis lingkungan itu harus dilihat secara holistik. Subjek permasalahan bukan pada kerusakan gambut atau sarana prasarana pemadaman api, tapi pada pilihan peradaban. Hari ini kita menaklukkan keyakinan keyakinan masyarakat lokal, dan menggantikannya dengan kolonialisme ekologis", ungkapnya.
Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu menambahkan, upaya serius Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Menteri Siti Nurbaya telah berupaya memulai dari hilir. "Kita appreciate, Starting point KLHK bisa menghukum korporasi pembakar lahan, menjaga jarak gaul dengan cukong berdasi," katanya. Akan tetapi paradigma keseluruhan politik lingkungan masih "bermesraan" dengan peradaban yang menindas.
Sebelumnya, Syamsuar mengungkapkan Pemprov Riau bersama penegak hukum akan terjun ke lapangan menertibkan kebun-kebun sawit ilegal setelah 17 Agustus ini.
"Kami sudah mencermati bahwa kejadian kebakaran lahan ini salah satunya disebabkan perambahan hutan yang tidak ditindaklanjuti, sehingga lahan bekas terbakar tersebut ditanami sawit. Jadi, kami sudah ada kesepakatan dengan penegak hukum yakni Kejaksan, Polda, TNI, dan Kanwil Pajak untuk menertibkan perkebunan sawit ilegal ini", ujar Syamsuar.
Penertiban ini merupakan masukan dari DPRD Riau dan permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hasil temuan Panitia khusus (Pansus) Monitoring Perizinan DPRD Riau, terdapat lebih kurang 1,4 juta hektar kebun sawit ilegal
Putra Selatpanjang yang akrab dipanggil Bung Elv itu menjelaskan, sampai puluhan tahun ke depan, ekologi masih terancam, masyarakat adat tetap marginal, Karhutla istiqamah membara. Nawaitu kita belum berubah, masih menari di atas kanvas peradaban bisnis yang serba kolonialistik.
"Selagi politik masih machhiavellis, maka hutan dan lahan terus berasap, tak ade can de," pungkas dosen UIN Suska yang gunduli kepala demi nasib hutan.


Komentar Via Facebook :