Karhutla sulit terkendali

Dr. Elviriadi : Nurani para Intelektual dan Perguruan Tinggi mati

Dr. Elviriadi : Nurani para Intelektual dan Perguruan Tinggi mati

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Kondisi cuaca panas sampai  penghujung 2019 membuat Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) sulit tertangani. Sampai awal Agustus, tercatat 13.426 warga yang positif terserang ISPA. Mengantisipasi gejala meluas, Pemko Pekanbaru telah nenaikkan status Siaga Darurat Karhutla.

Menyikapi ironi tersebut, Pakar Lingkungan nasional  DR. Elviriadi menilai bahwa Karhutla berlanjut belasan tahun karena lemahnya suara suara kritis, hal ini disampaikannya dalam pesan WhatsApp ke wartawan ranahriau.com, Selasa (06/08/2019).

Kepada wartawan, anak jati Riau tersebut menyampaikan rasa herannya kepada para intelektual negeri ini,  "Ya, publik menunggu betul tokoh nasyarakat, kaum intelektual, terutama Perguruan Tinggi, kok pada tiarap ya?", Sindirnya.

Ketua Majelis LH Muhammadiyah itu membeberkan bahwa  Karhutla itu adalah  masalah krusial, "tanpa kontrol dari para influencer (public figur),  maka arah perjalanan bangsa makin terpesong", ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI ini menambahkan, setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan perguruan tinggi "tiarap". Pertama, universitas saat ini cenderung terseret dalam pusaran materialisme. Orang pada mengagungkan dan berebut jabatan, nilai transetter nya fulus, dan kesenangan menggebu pada benda benda, "padahal Universitas itu mercusuar moral tempat para elit menyusun gerakan pro kaum tertindas", katanya.

Kedua, akademisi memiliki pengetahuan tapi miskin ideologi. Pengetahuannya tidak membentuk etika dan self control, akhirnya terjebak dalam "menjaja" pengetahuan kepada komprador pemerkosa gambut.

Faktor ketiga menurut Mubaligh IKMI Riau ini adalah gagal paham pada agama. Islam itu bukan hanya Zikir, haji, dan shodaqoh, tetapi Ijtihad ilmiah untuk membela peradaban ekologis, "Mujtahadin itu wilayah operasional orang perguruan tinggi, bagaimana rumusan ijtihad untuk membela umat dari bencana asap. Ndak boleh takut, nanti lama lama hati nurani mati," kritik putra Selatpanjang yg bertekad gunduli kepala demi hutan Riau.

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :