Kondisi Jembatan Menuju Nagari Sikabu, Dalam Keadaan Darurat
Padang Pariaman, RanahRiau.com - Kondisi jembatan sepanjang 90 meter menuju nagari sikabu, hingga saat ini masih dalam keadaan darurat. Karena, Jembatan tersebut hanya disambung menggunakan besi, agar bisa dilintasi oleh kendaraan roda 2.
Karena Kondisi jembatan penghubung tersebut yang demikian, Maka masyarakat Kenagarian Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, berharap kepada pemerintah daerah setempat untuk segera memperbaiki jembatan penghubung antar Nagari tersebut, yang sudah putus sejak tahun 2017 yang lalu.
Harapan ini disampaikan oleh Tokoh masyarakat Kenagarian Lubuk Alung Ir. Bachtiar Sultan Dt. Panyalai kepada RanahRiau.com, Sabtu (10/11/2018) Siang.
Bachtiar Sultan yang juga mantan Asisten II Pemko Pariaman ini menjelaskan, badan jembatan itu ambruk saat musim hujan akhir tahun 2017 lalu. sehingga saat ini menyebabkan kendaraan roda 4 tidak bisa melintasinya.
Untuk saat ini jembatan tersebut hanya bisa dilintasi kendaraan roda 2 saja, dengan cara disambung menggunakan besi. Dimana kondisi jembatan beton itu putus dibagian tengahnya.
"Pasca ambruknya jembatan ini, Nagari kami menjadi terisolir, karena satu-satunya jembatan penghubung ke Nagari ini belum juga diperbaiki. Selain itu, pada bulan November ini Nagari Sikabu akan menjadi tuan rumah Porprov Sumbar cabang renang dan silat, akan tetapi hingga saat ini jembatan belum juga diperbaiki. Untuk itu kami sangat menunggu respon pemerintah agar segera memperbaiki jembatan yang kondisinya sangat mengkhawatirkan ini," pungkasnya
Sementara itu, Secara terpisah Emyez Dt. Simarajo yang juga merupakan Ninik mamak di Kenagarian lubuk alung menambahkan, Dirinya juga sangat mengaharapkan perhatian Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten, agar segera turun kelapangan dan segera memperbaiki jembatan penghubung yang ambruk di Nagari Lubuk Alung ini.
"Jembatan ini merupakan satu-satunya akses penghubung bagi warga untuk menyeberang ke kampung-kampung ataupun keluar dari Nagari ini, oleh karena itu sangat berdampak terhadap masyarakat disini. Kita prihatin dengan anak-anak sekolah yang biasanya naik ojek hanya membayar Rp. 2.000, namun sekarang karena jalan sudah memutar biaya ojeknya telah mencapai Rp. 10.000. Begitu juga dengan masyarakat yang berprofesi sebagai petani, petani sa'at ini sangat merasa kesulitan dan menambah uang pengeluaran pergi ke pasar untuk menjual hasil panennya"
ujarnya yang juga mantan Kabid Diklat Kabupaten Padang Pariaman, menandaskan
Reporter : Eki Maidedi/rilis


Komentar Via Facebook :