Selembayung Oh Selembayung

Selembayung Oh Selembayung

 

PEKANBARU, RanahRiau - Alkisah, selembayung di Kantor Bupati  nan megah itu patah sebelah. Tak Tanggung-tanggung di tiga tingkat pucuknya. Entah karena termakan zaman atau ulah usil tangan manusia. Tiga pasang selembayung  itu tak bersilang lagi & yang tertinggal hanya yang kiri saja.

Celakanya, hari itu adalah helat Ultah Kabupaten yang ke-13. Pastinya tak bermaksud melengkapi angka sial itu, tapi mencuaikan bagian dari simbol Melayu itu berarti menghilangkan seri dan wibawa.

Memang bahaya jika akar jati sudah tercerabut. Padahal hiasan itu pertanda marwah sekaligus tuah bagi sang pemilik bangunan. Bangunan berselembayung adalah tanda kediaman orang beradat atau orang terhormat. Fatal tentunya jika sang penghuni tak menjaga kesempurnaan elemen khas rumah Melayu ini.

 

Mahkota Rumah Melayu

Selembayung adalah mahkota sebuah bangunan. Diambil dari kata ‘Sulo Bayung’, salah satu simbol kearifan budaya melayu ini tentu sarat makna dan sarat fungsi. Hiasan bersilangan di kedua ujung perabung bangunan ini dalam pandangan adat Melayu adalah sumber pemancar bagi aura sebuah bangunan. Diletakkan di bagian paling tinggi atau ‘tajuk rumah’ karena lambang ini sangat tinggi arti dan nilainya.

Tombak-tombak yang melengkapinya melambangkan penjagaan sekaligus wibawa dan keperkasaan. Maksudnya, agar rumah atau bangunan tersebut menjadi tempat yang menentramkan.Motif ukiran daun-daunan dan bunga melambangkan harmoni dan kasih sayang.Bentuknya yang berpasangan merupakan do’a bagi keserasian dan kelanggengan kasih rumah tangga sang pemilik bangunan sekaligus bagi keberlanjutan keturunan.

 

Bukan Sekadar Tempelan

Dulu Selembayungmerupakan penanda rumah adat melayu dan istana-istana Kesultanan Melayu Riau. Namun kini seiring berkembangnya zaman, selembayung dipatut-patutkan untuk dipasang di berbagai  tempat, mulai dari gapura jalan, pertokoan, gedung-gedung pemerintah, rumah sakit, bahkan arena olahraga.Layaknya Kota-Kota yang berbenah, berbagai Kota di Riau saat ini tengah bertranformasi dalam bentuk fisiknya. 

Untuk membangun identitas budaya,   mencomot elemen arsitektur tradisional tentu merupakan hal yang mudah. Pasalnya, elemen itu ternyata seringkali salah pasang, salah tempat bahkan sekadar tempelan. Tak heran jika ornamen selembayung pernah menghiasi tempat sampah di Kota Pekanbaru. Untunglah langsung muncul reaksi kritik dari warga dan tempat sampah tersebut segera ditarik peredarannya. Selembayung oh Selembayung.. (Luthz)

 

Editor : Ahnof
Komentar Via Facebook :