Mentoring, Dulu Kini dan Nanti
RanahRiau.com- Secara bahasa, mentoring berasal dari bahasa ingggris mentory yang artinya penasehat. Secara istilah, menurut M. Ruswandi Rama Adeyasa. Mentoring adalah proses belajar mengajar yang berorientasi ada pembentukan kepribadian islam yang di dalamnya ada proses belajar menggajar yang berorientasi pada pembentukan karakter dan kepribadian islam.
Secara umum, kegiatan pendidikan dan pembinaan yang di lakukan dengan pendekatan saling nasehat menasehati yang di dalamnya terdapat rasa saling mempercayai satu sama lain antara mentor (penasehat utama) dan mentee (peserta mentoring), dibentuk dengan pengajian kelompok kecil yang di lakukan rutin setiap pekannya. Tiap kelompok pengajian terdiri 3-15 orang.
Tujuan dari mentoring ini sangat banyak, namun yang terpenting adalah saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan mengingatkan dalam keburukan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah :
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling mengingatkan supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.”
Mentoring merupakan salah satu metode dakwah yang Rasulullah SAW ajarkan pada zaman dulu. Hingga kini, mentoring banyak kita temukan di berbagai kalangan masyarakat, mahasiswa khususnya. Mentoring juga dikenal dengan nama liqo’ (pertemuan) atau halaqoh. Mentoring yang dilakukan tiap kelompoknya merupakan metode dakwah yang paling mudah diterima kalangan masyarakat setelah ta’lim atau kajian, karena sifatnya berlangsung dua arah. Waktu dan tempat juga lebih fleksibel, idealnya dilaksanakan seminggu sekali. Selain sebagai sarana pembinaan, banyak kampus- kampus negeri maupun yang menerapkannya dalam sistem pelajaran agama karena dirasa memiliki banyak keefektifan dalam penyampaian serta dalam pengamalan materi yang diberikan lebih mudah di follow up.
Namun didalam mentoring sendiri begitu banyak rintangan yang akan di hadapi, dari pihak mentor ataupun mentee nya, ini pasti akan terjadi, bahkan dari zaman Rasulullah sangat banyak rintangan-rintangan yang di lalui untuk memperjuangkannya. Untuk memperjuangkannya Rasulullah dan para sahabat sampai mengorbankan jiwa, raga, harta, dan keluarga, demi tetap berada dalam mentoring-mentoring islam ini. Berbeda di zaman tabi’in sampai dengan pengikut-pengikut beliau sekarang ini rintangan yang di hadapi tidak terlalu nyata dirasakan langsung oleh jiwa, raga, harta, ataupun keluarga. Tantangnya yang di hadapi bahkan datang hanya dari diri pribadi, bagaimana komitmen umat muslim di uji dengan keduniawian yang membuat muslim malas lagi datang untuk mentoring atau tidak memilik waktu dalam menuntut ilmu di dalam mentoring dan majelis majelis lainnya.
Itulah yang menyebabkan banyaknya lingkaran-lingkaran mentoring yang seharusnya bisa di anggotakan 15 orang perkelompok hanya tinggal 9 orang, 7 orang atau bahkan hanya 4 orang. Inilah bukti bagaimana umat muslim yang taat dan di janjikan syurga oleh Allah semakin sedikit. Mereka di uji dengan kuatnya rintangan dakwah dan hanya orang-orag dapat melawan itulah yang akan khusnul khatimah. Semoga kita teraksut di dalamnya.
Didalam mentoring yang berperan penting dalam menjaga terpautnya hati-hati para mentee untuk bertahan dan semangat dalam menuntut ilmu didalam mentoring itu adalah mentornya. Rasulullah juga mencontohkan bagaimana kuatnya beliau dalam menyebarkan perintah Allah bagaimana pengorbanan beliau yang tetap sabar menerima caci maki orang kafir, dan Rasulullah tidak hanya memberikan pelajaran yang monoton kepada para sahabat tapi menggunakan banyak cara, dengan memberikan penjelasan, mengajarkan, menghafalkan, mencotohkan, dan bahkan meminta pertolongan orang lain dalam memberi pelajaran kepada para sahabatnya.
Maka dari itu dalam menyentuh hati-hati para mentee harus mencontoh Rasulullah dan di inovasikan dengan zaman sekarang atau bahkan di kembangkan dengan zaman kedepannya, tapi tetap dalam ranah kebaikan sesuai dengan syariat islam.
Mentoring sangat di butuhkan dari zaman dulu, kini bahkan kedepannya, karna mentoring adalah sarana yang di lakukan cecara konsisten untuk mencharger keimanan manusia yang fitrahnya naik turun dan harus terus di ingatkan agar tidak turun dengan drastis atau bahkan melakukan ibadah yang sangat banyak namun hanya sekali sekali.
Tapi perlu di pahami mentoring dulu, kini, dan nanti pun akan memiliki makna dan tujuan yang sama hanya saja dalam penyampaiaan didalam mentoring yang harus disesuaikan dengan keadaan, umur, bahkan zaman, agar semakin banyak penyampaiaan dakwah itu tepat sasaran dan menjadi sarana hidayah bagi seluruh umat islam.
Begitu banyak pahala dan janji Allah yang di berikan kepada para pendakwah yang memiliki semngat dan keiklasan dalam menyebarkan ajaran Allah dengan sarana apapun. Jadi jangan sampai karena suatu yang fana kita meninggalkan yang kekal dan tidak akan dapat kembali karena sudah terlambat dan terjerat terlalu jauh oleh hasutan syaitan.
Penulis : Cindy Fitria Rahayu, Mahasiswa 2015


Komentar Via Facebook :