ALEXIS PUNCAK GUNUNG ES YANG DIPOLITISASI
RanahRiau.com- Penutupan tempat hiburan malam Alexis, yang saat ini menjadi tranding topic selama hampir seminggu terakhir, boleh jadi memang bukan segala-galanya bagi pembenahan moralitas publik warga DKI Jakarta dan perlindungan bagi generasi mudanya dari kemungkinan perusakan moral. Alexis hanyalah satu saja dari sekian banyak, puluhan atau mungkin juga ratusan, tempat-tempat hiburan malam yang berpraktek sama dengan Alexis, kenapa hanya Alexis saja yang ditutup, kata mereka yang entah keberatan atas ditutupnya Alexis atau justru mendorong penutupan tempat-tempat hiburan lainnya yang sama dengan Alexis.
Yang jelas ada banyak orang yang dibuat sibuk oleh tindakan gubernur DKI yang baru Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno, yang menutup tempat hiburan malam Alexis per Senin, 30 Oktober 2017 yang lalu. Ada yang gembira menyambut tindakan gubernur Anies dan wakilnya itu, karena menganggap apa yang selama ini dimitoskan sebagai mustahil dilakukan jika hanya bermodalkan Perda No. 6 Tahun 2015 saja, ternyata oleh Anies dan Sandi berhasil ditutup. Walau, tentunya, persolan hukum penutupan itu adalah hal lain yang harus juga dihadapi oleh gubernur Anies dan wakilnya ke depannya nanti. Kita tunggu saja bagaimana kesudahannya nanti.
Namun, dari sekian banyak orang yang gembira dan setuju atas tindakan gubernur Anies ini, terdapat juga orang yang nyinyir dan sinis. Mereka umumnya beranggapan bahwa tindakan Anies itu lebih bernuansa politik ketimbang bekerja sesuai protapnya sebagai gubernur. Mereka menuduh Anies sedang melakukan kampanye dengan menutup Alexis, untuk pencitraan dirinya maju sebagai kandidat presiden pada pilpres 2019 nanti. Tuduhan semacam ini, disamping terlalu dini, juga sangat tidak beralasan, mengingat penutupan Alexis adalah salah satu point yang dijanjikan dalam kampanye pasangan Anies-Sandi saat pilgub DKI dulu kepada para pemilihnya. Mereka harus melakukan itu, agar supaya tidak dianggap pembohong dan ingkar janji.
Anggapan bahwa Alexis hanyalah puncak gunung es, sementara di bawahnya ada banyak lagi tempat-tempat hiburan malam semacam Alexis, boleh jadi ada benarnya. Tetapi menganggap tindakan Anies-Sandi itu sebagai suatu tindakan yang sia-sia dan tidak perlu, adalah keliru besar. Anies-Sandi perlu mematahkan mitos yang dibangun oleh pendahulunya, bahwa penutupan Alexis adalah mustahil. Anies memang perlu membangun citra dirinya, tetapi bukan untuk keperluan pilpres 2019. Anies perlu membangun citra dirinya, yang berbeda dengan pendahulunya, untuk memperoleh kekuatan dan dukungan dari warga DKI, guna melanjutkan agenda-agenda dan program-program yang dijanjikannya kepada pemilihnya.
Ahok mungkin benar, bahwa penutupan Alexis tidak mungkin dilakukan dengan hanya bermodalkan Perda No. 6 Tahun 2015. Untuk itulah, menurut saya, Anies memerlukan dukungan dari segenap warga DKI yang mendambakan kehidupan yang bermoral di DKI, bahwa penutupan Alexis dan juga yang lain-lainnya tidaklah mustahil, jika warga DKI kompak menginginkannya ditutup. Keberhasilan kecil, akan merupakan modal bagi keberhasilan berikutnya, begitu bisanya para ahli motivator membahasakannya, Dan bagaimanapun, kebutuhan manusia akan hiburan yang sifatnya asusila, tidaklah termasuk di dalam deklarasi HAM, saya kira....
Penulis : Abdul Hafidz, Ar, S.Ip
Pemerhati Sosial Budaya
Relawan Muda Riau (RMR) Divisi Sosial
Alumni Hubungan Internasional FISIP UR
Musyrif Ponpes Tahfidz Baitul Qur'an Pekanbaru


Komentar Via Facebook :