Kumandang Azan di Pulau "Kera"
Kata 'Kera' berasal dari istilah dalam bahasa Solor 'takera' yang
artinya ember atau timba. Pemberian nama tersebut agaknya merujuk pada
banyaknya wadah air yang digunakan warga yang hampir seluruhnya
berprofesi sebagai nelayan. Pelafalan huruf 'e' pada 'Kera' juga tidak
sama seperti menyebut huruf 'e' dalam kata emas. Pulau Kera diucapkan
selayaknya huruf 'e' dalam kata enak.
Butuh waktu 45 menit hingga
satu jam perjalanan laut menuju pulau yang menjadi bagian dari Taman
Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang itu. Perahu bisa disewa dari para
nelayan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba di Jalan Alor, Kupang.
Pasir
putih Pulau Kera menyambut kedatangan dengan bentang biru laut yang
bagai tanpa ujung. Pemandangan itu amat menggirangkan bagi rombongan
warga kota besar yang kekurangan vitamin sea (sebutan gaul untuk rindu main di laut).
Dari
kondisi lautnya yang tenang, perairan sekitar Pulau Kera cocok untuk
berenang, berjemur, atau snorkeling. Apalagi, terik sinar matahari
seakan sudah meninggi meski waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi.
Akan
tetapi, rombongan kami tak punya banyak waktu untuk bermain air. Kami
hanya berniat mengambil beberapa foto dan sejenak berkeliling pulau.
Setapak dekat bibir pantai mengarahkan pelancong ke sebuah bangunan
sederhana. Masjid dengan kubah limas warna biru berdiri di tengah pulau,
setia mengumandangkan azan.
Arsyad Abdul Latif adalah Imam di
Masjid bernama Darul Bahar tersebut. Ia telah menjadi pemimpin dalam
kepengurusan masjid sejak bangunan itu berdiri pada 20 Februari 2000.
"Tidak hanya untuk shalat, masjid ini juga digunakan untuk belajar,"
ujar pria berusia 63 tahun itu.
Asad, panggilannya, menjelaskan, anak usia sekolah dasar belajar agama dan mengaji di sana. Tadinya, ada bangunan TPA yang berdiri sejak 2012, tetapi rubuh karena angin kencang pada 2014. Pendidikan di pulau tersebut memang kurang memadai. Keluarga yang hendak menyekolahkan anaknya harus mengirimkan putra-putri mereka menyeberang laut.
Selain ketiadaan sekolah, warga Pulau Kera juga belum memiliki
fasilitas layanan kesehatan. Listrik di pulau seperti pengeras suara
masjid atau televisi menyala berkat dinamo.
Ketertinggalan
tersebut cukup disayangkan, mengingat lokasi Pulau Kera tak jauh dari
Kota Kupang. Secara administratif, Pulau Kera berada di wilayah Desa
Uiasa, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT.
Total terdapat
400-an jiwa dalam 97 keluarga yang tinggal di sana. Mereka mendirikan
bangunan rumah semipermanen di pulau yang dihuni sejak 1911 itu.
Penduduk
Kota ataupun Kabupaten Kupang memang mayoritas memeluk agama Kristen.
Pulau Kera adalah perkecualian, dengan mayoritas warganya adalah umat
Islam. "Sekitar 99 persen warga kami Muslim, mungkin hanya lima atau
enam orang saja yang non-Muslim," kata Asad.
Meski pembangunan belum menyentuh rata, Asad menyatakan, tak
berkenan meninggalkan pulau tercintanya. Beberapa rencana relokasi
penduduk ke daerah pegunungan Kabupaten Kupang pun tak disetujui
mayoritas warga.
Pasalnya, ujar Asad, laut adalah sumber
kehidupan bagi seluruh warga Pulau Kera. Mereka rela menghuni pulau
kecil dengan masjid sederhana itu, sebagai pembeda di antara 44 pulau
yang dihuni dari keseluruhan 1.192 pulau di NTT. Kami pun harus
mengakhiri persinggahan di Pulau Kera untuk kembali ke Kota Kupang.
Seiring laju kapal, kumandang azan terdengar lamat-lamat menyeru umat
Muslim menyegerakan kewajibannya.
(Republika.co.id)


Komentar Via Facebook :