Semarak Literasi 2026 di Maharatu, TBM Tauladan Syafitri Gelar Tiga Hari Kegiatan
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM – Upaya menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat terus dilakukan oleh berbagai komunitas di Kota Pekanbaru. Salah satunya melalui Semarak Literasi Tahun 2026 yang digelar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Tauladan Syafitri selama tiga hari di Kelurahan Maharatu, Kecamatan Marpoyan Damai.
Rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan tiga agenda utama, yakni Pelatihan Membaca Nyaring bagi Masyarakat, Seminar Pentingnya Pembudayaan Literasi Sejak Dini, serta Pelatihan Menulis Cerita Praktik Baik Berliterasi.
Tiga agenda tersebut berlangsung secara berurutan dan berjalan lancar. Pada hari pertama, peserta mengikuti Pelatihan Membaca Nyaring bagi Masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada hari kedua dengan Seminar Pentingnya Pembudayaan Literasi Sejak Dini.
Memasuki hari ketiga, peserta mendapatkan pelatihan Menulis Cerita Praktik Baik Berliterasi, yang berlangsung pada Ahad (27/9/2026).
Rangkaian kegiatan tersebut mendapat apresiasi dan sambutan dari berbagai kalangan. Peserta dan tamu yang hadir berasal dari beragam latar belakang yang memiliki perhatian terhadap pengembangan literasi masyarakat.
Sejumlah unsur turut hadir dalam rangkaian kegiatan, di antaranya Ketua Balai Bahasa Provinsi Riau, Lurah Maharatu Kecamatan Marpoyan Damai, Bunda Literasi Kelurahan Maharatu, serta Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya penguatan gerakan literasi di tingkat masyarakat. Kegiatan juga menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, komunitas dan para pegiat literasi untuk berbagi pengalaman serta membangun kolaborasi.
Ketua TBM Tauladan Syafitri, Musrifah, menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diberikan berbagai pihak terhadap pelaksanaan Semarak Literasi 2026.
Ia mengatakan, meskipun Bunda Literasi Kota Pekanbaru tidak dapat hadir secara langsung, dukungan tetap diberikan melalui karangan bunga. Hal serupa juga disampaikan Musrifah terkait dukungan dari Wali Kota Pekanbaru.
“Meski Bunda Literasi Kota Pekanbaru tidak datang, tapi ada kirim karangan bunga. Begitu juga Pak Wali,” ujar Musrifah.

Menurut Musrifah, dukungan tersebut menjadi motivasi bagi TBM Tauladan Syafitri dan para pegiat literasi untuk terus bergerak menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga menyebutkan bahwa Semarak Literasi 2026 menjadi salah satu kegiatan yang mendapat partisipasi cukup besar dari kalangan pegiat literasi.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling banyak diikuti sahabat pegiat literasi,” katanya.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, rangkaian Semarak Literasi 2026 dirancang dengan materi yang saling berkaitan. Peserta tidak hanya diajak meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga memahami pentingnya membangun budaya literasi sejak usia dini dan belajar mendokumentasikan pengalaman dalam bentuk tulisan.

Pelatihan membaca nyaring menjadi pintu awal untuk memperkenalkan metode membaca yang interaktif dan menyenangkan. Sementara seminar pembudayaan literasi sejak dini memberikan ruang untuk membahas pentingnya membangun kebiasaan literasi sejak anak-anak.
Pada hari ketiga, peserta kemudian diajak menuangkan pengalaman dan kegiatan yang telah dilakukan ke dalam tulisan melalui pelatihan Cerita Praktik Baik Berliterasi.
Dengan demikian, pengalaman para pegiat literasi tidak berhenti sebagai kegiatan yang dilakukan di komunitas, tetapi dapat didokumentasikan dan dibagikan kepada masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa gerakan literasi memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui kolaborasi. TBM, pemerintah, pendidik, komunitas dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca dan belajar.
Semarak Literasi 2026 di TBM Tauladan Syafitri menjadi salah satu contoh bagaimana ruang literasi di tingkat masyarakat dapat berkembang menjadi tempat belajar, berbagi pengalaman dan membangun jejaring.
Melalui kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, TBM Tauladan Syafitri tidak hanya mengajak masyarakat untuk membaca, tetapi juga mendorong mereka untuk belajar, menulis, berbagi dan mengabadikan praktik baik yang telah dilakukan.

Pada akhirnya, gerakan literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat diolah menjadi gagasan serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.


Komentar Via Facebook :