Damai itu Lebih Mahal Dari Menang

Damai itu Lebih Mahal Dari Menang

Eki Maidedi (Pemuda Kenegerian Gajah Tunggal)

Minggu, 6 September 2026

KUANSING - Polemik itu akhirnya selesai.! Bukan di pengadilan. Bukan di kolom komentar. Tapi di Mapolres Kuantan Singingi (Kuansing). Jumat kemarin. 4 September 2026.

Kalau mengikuti alur sinetron media sosial, harusnya ini berlanjut. Harus ada part 2, part 3, hingga part 10. Harus ada live. Harus ada tim pembela dari kubu sana dan kubu sini. Harus ada perang suku di kolom komentar.

Tapi tidak.

Malam Kamis, 3 September, jam 22.12 WIB, ada sebuah telepon dari kuasa hukum Polda, Torang Sihotang, kepada kuasa hukum DT Darwis, Advokat Ikhsan. Isinya pendek: "Bisa damai?"

Jawaban dari seberang juga pendek: "Bisa."

Saya selalu percaya, kata "bisa" itu lebih sulit diucapkan daripada kata "lawan terus".

Keesokan harinya mereka bertemu. Tidak ada kamera yang berlebihan. Tidak ada yang berteriak "kami menang". Mereka bikin surat. Isinya lima poin. Saya baca satu per satu.

Saya suka poinnya.

Pertama: Damai tanpa paksaan. Tidak ada yang menekan. Murni kesadaran sendiri. Di zaman sekarang, di mana orang damai saja kadang masih dipaksa netizen untuk tidak damai, ini mahal.

Kedua: Mengakui dan minta maaf. Polda mengakui khilaf. Minta maaf bukan hanya ke DT Darwis, tapi ke seluruh masyarakat Kuansing. Meminta maaf itu seperti menurunkan ember ke sumur yang dalam. Harus berani.

Ketiga: Memaafkan. DT Darwis menerima. Besar hati. Memaafkan itu lebih berat dari meminta maaf. Karena memaafkan artinya menghapus file dendam yang sudah terlanjur di-save di kepala.

Keempat: Tidak ada tuntutan lanjutan. Selesai ya selesai. Tidak dibawa-bawa ke perdata, pidana, atau ke konten selanjutnya.

Kelima: Hentikan provokasi. Ini yang paling saya suka. Kedua belah pihak sepakat menghapus konten provokatif dan meminta pendukungnya berhenti.

Lihat. Lima janji itu bukan janji hukum, tapi itu janji persaudaraan.

Advokat Ikhsan bilang kalimat yang bagus: "Cukup perkaranya yang pernah memisahkan, jangan persaudaraannya."

Saya catat kalimat itu.

Untuk kita semua netizen, mari kita sama-sama merenungi. Kalau yang berperkara saja sudah memilih berdamai, mengapa kita yang tidak berperkara justru ingin terus berperang?

Sudahlah.

Riak di Sungai Kuantan sudah tenang. Danau Toba juga sudah tenang. Mari kita jaga tenangnya bersama. Karena pada akhirnya, merawat persaudaraan itu jauh lebih sulit - dan jauh lebih mulia - daripada merawat ego perselisihan.

Editor : Eki Maidedi
Sumber : Opini
Komentar Via Facebook :