Karhutla Bakar Indonesia, Kerugian Tembus Rp123 Triliun! 17,4 Juta Warga Terancam ISPA
Foto: Ist, Sumber : Net
Celios memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp123,1 triliun. Angka tersebut bahkan belum memasukkan skenario kebakaran meluas hingga akhir tahun.
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memperlihatkan wajah paling mahalnya. Bukan hanya hutan yang terbakar, bukan hanya lahan yang berubah menjadi bara. Ekonomi Indonesia ikut hangus. Center for Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar Rp123,1 triliun.
Yang membuat angka tersebut semakin mengkhawatirkan, estimasi itu belum menghitung kemungkinan karhutla meluas hingga akhir 2026. Artinya, jika kebakaran terus terjadi dalam beberapa bulan ke depan, tagihan ekonominya berpotensi semakin membengkak.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, mengatakan kerugian tersebut berasal dari berbagai dampak, mulai dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi hingga biaya kesehatan masyarakat yang terdampak asap karhutla. Rp29,54 Triliun Menguap dari Aset dan Aktivitas Ekonomi
Celios memperkirakan kerugian akibat hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi mencapai sekitar Rp29,54 triliun. Angka itu menggambarkan dampak langsung maupun tidak langsung dari karhutla terhadap kegiatan ekonomi. Ketika api meluas, aktivitas masyarakat terganggu.
Produksi, perdagangan, transportasi hingga kegiatan ekonomi lainnya ikut terkena dampaknya. Namun, angka Rp29,54 triliun tersebut ternyata baru sebagian dari keseluruhan tagihan. Biaya kesehatan justru menjadi komponen yang jauh lebih besar.
ISPA Jadi Tagihan Terbesar
Asap karhutla bukan sekadar membuat langit berubah kelabu. Dampaknya dapat masuk ke ruang-ruang rumah, sekolah, tempat kerja hingga fasilitas kesehatan. Celios menghitung dampak kesehatan melalui dua skenario.
Skenario pertama menghitung masyarakat yang benar-benar terdiagnosis infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) oleh tenaga kesehatan. Dalam skenario ini, diperkirakan terdapat sekitar 1,78 juta jiwa yang terdampak. Total biaya kesehatannya diperkirakan mencapai Rp9,75 triliun.
Namun, angka tersebut belum menggambarkan seluruh warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Sebab, tidak semua orang yang mengalami gejala ISPA datang ke fasilitas kesehatan.
17,4 Juta Warga Bergejala, Tapi Tak Berobat
Celios menggunakan skenario kedua yang jauh lebih mengkhawatirkan. Perhitungan ini memasukkan warga yang terdiagnosis ISPA sekaligus masyarakat yang mengalami gejala ISPA tetapi tidak memeriksakan diri. Kondisi tersebut dapat terjadi karena berbagai kendala, termasuk biaya dan jarak menuju fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam skenario tersebut, jumlah warga yang terdampak diperkirakan mencapai 17,4 juta orang. Biaya ekonominya melonjak drastis hingga sekitar Rp93,56 triliun. Angka inilah yang membuat total kerugian karhutla mencapai sekitar Rp123,1 triliun.
Api Membakar Hutan, Tagihannya Dibayar Masyarakat
Jika angka Celios tersebut digunakan sebagai gambaran, karhutla 2026 tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan ekonomi. Persoalan kesehatan. Dan pada akhirnya persoalan kesejahteraan masyarakat. Rp123,1 triliun adalah angka yang sulit dianggap kecil. Nilai tersebut bahkan belum memasukkan kemungkinan kebakaran terus berlangsung hingga penghujung tahun. Semakin lama api bertahan, semakin panjang pula rantai kerugiannya. Hutan dan lahan terbakar. Aktivitas ekonomi terganggu.
Masyarakat terpapar asap. Biaya kesehatan meningkat. Dan negara pada akhirnya menghadapi konsekuensi ekonomi yang jauh lebih besar.
Karhutla 2026: Siapa yang Membayar Tagihannya?
Di balik kepulan asap, terdapat tagihan yang tidak selalu terlihat. Ketika seseorang terkena ISPA dan tidak mampu berobat, ada biaya sosial yang tersembunyi. Ketika aktivitas ekonomi berhenti, ada pendapatan yang hilang. Ketika aset terbakar, ada kekayaan yang lenyap. Dan ketika jutaan orang terpapar asap, dampaknya tidak berhenti pada hari ketika api dipadamkan.
Karena itu, angka Rp123,1 triliun seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Sebab, mencegah karhutla bukan sekadar menyelamatkan hutan. Mencegah karhutla berarti mencegah ratusan triliun rupiah ikut terbakar. Dan yang paling penting, mencegah jutaan warga Indonesia membayar harga kesehatan dari bencana yang sebenarnya bisa dicegah.


Komentar Via Facebook :