Dari Yogyakarta ke Dunia: Jejak Panjang Persebaran Muhammadiyah hingga 30 Negara
Foto: Ist
YOGYAKARTA, RANAHRIAU.COM– Muhammadiyah kini dikenal sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan yang tersebar di seluruh provinsi, bahkan telah berkembang hingga berbagai negara. Namun, perjalanan Muhammadiyah menjadi organisasi dengan jaringan luas tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Secara historis, Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912. Meski Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) mencatat tahun tersebut sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah, pada masa awal organisasi ini belum memiliki keleluasaan untuk menyebarkan dakwah ke seluruh wilayah Hindia Belanda.
Dalam Statuten Muhammadiyah pertama tahun 1912, tepatnya artikel 1 huruf (a), disebutkan bahwa Muhammadiyah bertujuan: “Menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam kepada penduduk Bumiputera di dalam residensi Yogyakarta.”
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa ruang gerak Muhammadiyah pada masa awal masih terbatas di wilayah Karesidenan Yogyakarta.
Statuten 1914 Membuka Jalan Lebih Luas
Perubahan penting terjadi melalui Statuten Muhammadiyah kedua tahun 1914. Dalam artikel 1 huruf (a), rumusan tujuan organisasi diubah menjadi: “Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama Islam di Hindia Nederland.”
Perubahan tersebut menjadi salah satu pijakan penting bagi Muhammadiyah untuk memperluas dakwahnya ke wilayah yang lebih luas.
Meski demikian, izin resmi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan Muhammadiyah di luar Yogyakarta baru diperoleh pada 2 September 1921.
Menariknya, upaya memperluas jaringan Muhammadiyah ternyata telah dilakukan jauh sebelum izin resmi tersebut diberikan.
Ahmad Dahlan Mulai Bangun Jaringan di Luar Yogyakarta
Kiai Ahmad Dahlan tidak berhenti pada aktivitas dakwah di Yogyakarta. Upaya membangun embrio gerakan Muhammadiyah di luar Yogyakarta telah dilakukan melalui berbagai jaringan pengajian dan komunitas.
Salah satunya adalah pendirian kelompok pengajian Siddiq Amanah Tableg Vathonah (SATV) di Surakarta pada 1917.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa gagasan pembaruan Islam yang dibawa Kiai Ahmad Dahlan mulai mendapatkan ruang di luar Yogyakarta bahkan sebelum Muhammadiyah memperoleh izin resmi untuk mendirikan cabang di luar wilayah tersebut.
Dalam Ensiklopedi Muhammadiyah (2015) disebutkan bahwa Muhammadiyah pada 7 Mei 1921 mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang di luar Yogyakarta.
Setelah izin diberikan pada 2 September 1921, perkembangan Muhammadiyah di berbagai daerah berlangsung semakin cepat.
Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Maret 1922 bahkan mencatat bahwa setelah Algemene Vergadering atau rapat umum Muhammadiyah di Yogyakarta, organisasi tersebut bergerak cepat membangun perwakilan berupa cabang-cabang di berbagai wilayah Jawa.
Dari Jawa Menyebar ke Sumatra, Kalimantan hingga Papua
Perkembangan Muhammadiyah kemudian tidak hanya berlangsung di Pulau Jawa. Gerakan tersebut menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Muhammadiyah kemudian hadir di sejumlah daerah di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara hingga Papua.
Persebaran tersebut tidak hanya dilakukan oleh struktur resmi organisasi. Muhammadiyah berkembang melalui jaringan guru, pegawai, pedagang, ulama, pelajar, dan para pejuang yang membawa gagasan pembaruan Islam ke berbagai daerah.
Jaringan orang-orang dari Jawa memiliki peran penting. Namun, kontribusi masyarakat dari Sumatra Barat juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah persebaran Muhammadiyah.
Bahkan, dalam perkembangan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, pengaruh dan nuansa Minangkabau cukup terasa.
Peran Pejuang Aceh dalam Persebaran Muhammadiyah di Papua
Salah satu kisah menarik dalam perjalanan Muhammadiyah adalah keterlibatan tokoh asal Aceh dalam persebaran gagasan Muhammadiyah di wilayah Papua.
Tokoh tersebut adalah Teuku Bujang Selamat, seorang pejuang asal Aceh yang diasingkan Pemerintah Hindia Belanda pada 1922 ke Digul, wilayah yang saat ini masuk Provinsi Papua Selatan.
Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang tersebut menunjukkan bahwa persebaran Muhammadiyah sejak awal tidak hanya bergantung pada ekspansi struktural organisasi.
Mobilitas manusia, jaringan pendidikan, perdagangan, perjuangan politik, serta hubungan antardaerah turut menjadi jalur penting penyebaran gagasan Muhammadiyah.
Ada yang Sengaja Berguru ke Jawa
Persebaran Muhammadiyah juga berlangsung melalui inisiatif masyarakat lokal.
Salah satu contohnya terjadi di Alabio, Hulu Sungai Utara. Masyarakat Muslim setempat mengutus dua tokoh, yakni Jaferi Umar dan Usman Amin, untuk berguru ke Jawa.
Mereka melakukan perjalanan melalui Surabaya hingga Yogyakarta untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi mengenai Muhammadiyah.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat di berbagai daerah tidak selalu menunggu Muhammadiyah datang. Ada pula komunitas lokal yang secara aktif mencari, mempelajari, dan kemudian membawa gagasan Muhammadiyah ke daerah mereka.
Kini Muhammadiyah Hadir di 38 Provinsi
Lebih dari satu abad setelah berdiri, Muhammadiyah telah berkembang menjadi organisasi dengan jaringan yang sangat luas.
Saat ini Muhammadiyah telah memiliki 38 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) yang mencakup seluruh provinsi di Indonesia.
Perluasan tersebut juga menjangkau provinsi-provinsi baru di Tanah Papua, yakni Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.
Perjalanan dari organisasi yang pada awal berdirinya hanya memiliki ruang dakwah di Yogyakarta menjadi organisasi yang hadir di seluruh Indonesia menunjukkan panjangnya proses sejarah Muhammadiyah.
Dari Indonesia Menembus Dunia
Perkembangan Muhammadiyah tidak berhenti di Indonesia.
Di luar negeri, Muhammadiyah membangun jaringan melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM).
PCIM pertama adalah PCIM Mesir, yang diresmikan pada 2002. Namun embrio komunitas Muhammadiyah di Mesir telah muncul sejak 1996 melalui Ikatan Keluarga Muhammadiyah (IKM).
Seiring perkembangan komunitas diaspora, pelajar, akademisi, dan warga Muhammadiyah di berbagai negara, jaringan PCIM kemudian terus bertambah.
Data terbaru menunjukkan Muhammadiyah telah hadir di sekitar 30 negara, dengan PCIM Timor Leste menjadi salah satu perkembangan terbaru.
Sejumlah PCIM juga telah memperoleh pengakuan atau status hukum sesuai ketentuan negara tempat mereka berada, di antaranya PCIM Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, serta PCIM UK dan Irlandia yang mendapat pengakuan dari Dewan Muslim Inggris.
Dari Sebuah Gerakan Lokal Menjadi Gerakan Global
Sejarah panjang tersebut memperlihatkan satu hal penting: Muhammadiyah tidak tumbuh hanya karena kekuatan struktur organisasi.
Ia berkembang melalui pendidikan, dakwah, mobilitas manusia, jaringan intelektual, perdagangan, hubungan antardaerah, dan inisiatif masyarakat lokal.
Dari Yogyakarta, gagasan Muhammadiyah bergerak ke berbagai penjuru Nusantara. Dari Nusantara, gagasan tersebut kemudian dibawa oleh warga dan kader Muhammadiyah ke berbagai belahan dunia.
Lebih dari satu abad kemudian, Muhammadiyah bukan lagi sekadar gerakan yang lahir di sebuah kota di Jawa. Ia telah menjadi jaringan gerakan Islam yang memiliki jejak di 38 provinsi Indonesia dan sekitar 30 negara di dunia.
Perjalanan itu sekaligus menunjukkan bahwa sebuah gagasan dapat melampaui batas geografis ketika memiliki basis pendidikan, kaderisasi, dakwah, dan masyarakat yang terus menghidupkannya.


Komentar Via Facebook :