Razia PETI Gencar, Tapi Tungku Emas Ilegal di Benai Tetap Mengepul

Razia PETI Gencar, Tapi Tungku Emas Ilegal di Benai Tetap Mengepul

Di belakang rumah ini adanya dugaan pemurnian emas ilegal

KUANTAN SINGINGI - Operasi PETI Kuantan Merah Putih Presisi 2026 yang digembar-gemborkan Ditreskrimsus Polda Riau gencar di lapangan. Rakit-rakit dirazia, pelaku ditertibkan. Tapi faktanya, di darat, tungkunya diduga tetap mengepul.

Informasi mengejutkan diterima redaksi, Senin (18/8/2026). Di balik gencarnya razia, muncul dugaan gurita baru PETI yang lebih licik. Bukan lagi sekadar rakit dompeng di sungai, tapi sudah masuk ke level penampungan dan pemurnian emas ilegal.

Lokasi itu ada di Desa Banjar Lopak, Kecamatan Benai. Di titik inilah diduga jadi dapur haram pencucian emas ilegal.

Sumber terpercaya yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan membongkar, lokasi itu diduga milik pria berinisial ICN. Di belakang rumahnya, sengaja dibangun sebuah pondok atau warung kecil. Jangan salah, itu bukan warung kopi. Itu diduga tungku pembakaran dan pemurnian emas hasil PETI.

"Di belakang rumah itu ada warung atau pondok kecil yang sengaja dibuat untuk tempat pemurnian emas. Pembakarannya main jam-jam tertentu, pagi pun jadi," ungkap sumber sambil mengirimkan foto lokasi yang dimaksud ke redaksi.

Lebih gila lagi, ICN bukan pemain kecil. Ia diduga menguasai tiga unit rakit dompeng PETI sekaligus. Dua unit diduga dikelola anaknya sendiri, satu unit ia kelola langsung. Ini bukan lagi tambang rakyat, ini sudah diduga jadi bisnis keluarga.

Jika ini benar, ini tamparan keras bagi Operasi Presisi. Artinya, yang dirazia di sungai hanya ekornya, sementara kepalanya, modalnya, dan dapur pengolahannya dibiarkan hidup nyaman di darat.

Publik mendesak verifikasi lapangan langsung di Banjar Lopak, Benai. Putus rantai modal, penampung, dan pengolahnya. Kalau tidak, PETI di Kuansing akan abadi, razia hanya jadi drama tahunan.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada ICN dan Ditreskrimsus Polda Riau.

Editor : Eki Maidedi
Komentar Via Facebook :