Ketika SF Hariyanto hadir di Persidangan Abdul Wahid
Dulu Sepanggung Kampanye, Kini Saling Sanggah di Pengadilan
Foto: Ist
CURHAT ELIT RIAU: "SIAPA BAPAK KIRANYA?" JADI KALIMAT PALING MENYENGAT
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM– Sidang dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid, Rabu (3/6/2026), mendadak terasa lebih mirip ruang mediasi hubungan yang retak ketimbang ruang pembuktian perkara korupsi.
Publik yang berharap mendengar fakta-fakta hukum terkait dugaan rasuah justru disuguhi episode terbaru drama politik antara Abdul Wahid dan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto. Keduanya saling membuka lembaran masa lalu, mengungkit perjalanan Pilgub, persoalan jabatan, hingga kisah siapa yang pernah meminta maaf kepada siapa.
Dalam sidang itu, Abdul Wahid tampak berusaha mengingatkan publik tentang sejarah kebersamaan mereka saat merebut tampuk kekuasaan di Riau. Namun respons SF Hariyanto justru menunjukkan bahwa romantisme politik tersebut tampaknya sudah lama berakhir.
Puncaknya terjadi ketika Abdul Wahid menanyakan soal dugaan permintaan maaf dan cium tangan yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto.
Alih-alih mengiyakan, SF melontarkan jawaban yang sontak membuat ruang sidang memanas.
"Siapa bapak kiranya?"
Kalimat pendek itu terdengar seperti peluru yang meluncur tepat ke jantung hubungan politik yang selama ini dibangun di atas panggung kampanye dan janji kebersamaan.
Sidang pun seolah berubah menjadi arena saling bantah. Abdul Wahid mengungkap dugaan adanya rekaman pemeriksaan KPK yang beredar hingga pernyataan kontroversial yang disebut pernah diucapkan SF. Namun seluruh tudingan itu dibantah mentah-mentah oleh saksi.
Sementara itu, SF Hariyanto juga tidak melewatkan kesempatan untuk menyampaikan unek-unek yang selama ini tersimpan. Ia mengaku sebagai wakil gubernur hanya seperti penonton di rumah sendiri.
Menurutnya, disposisi surat tak pernah sampai ke meja kerjanya, rapat-rapat pemerintahan tidak pernah melibatkannya, dan berbagai keputusan strategis berjalan tanpa kehadirannya.
Jika benar demikian, publik tentu patut bertanya: selama ini Riau dipimpin oleh duet kepala daerah atau sekadar pasangan administratif di atas kertas?
Yang lebih ironis, berbagai persoalan pribadi dan politik yang terungkap di ruang sidang justru membuka tabir bahwa keretakan hubungan keduanya diduga sudah terjadi jauh sebelum operasi tangkap tangan KPK mengguncang Pemerintah Provinsi Riau.
Di tengah kondisi daerah yang masih bergulat dengan berbagai persoalan pembangunan, pelayanan publik, hingga pemulihan ekonomi, elit politik justru terlihat sibuk memperdebatkan siapa yang lebih berjasa mengantarkan siapa ke kursi kekuasaan.
Sidang yang seharusnya menjadi ruang mencari kebenaran hukum akhirnya menyisakan pertanyaan besar bagi masyarakat.
Apakah yang sedang diadili hanya perkara korupsi, atau sekaligus bangkai persahabatan politik yang selama ini disembunyikan di balik senyum kampanye?
Satu hal yang pasti, kalimat "Siapa bapak kiranya?" mungkin akan menjadi kutipan paling diingat publik dari persidangan hari itu. Bukan karena menjelaskan perkara korupsi, melainkan karena berhasil menggambarkan betapa cepatnya politik mengubah kawan seperjuangan menjadi orang asing dalam satu ruang sidang.


Komentar Via Facebook :