Mahasiswa Hidupkan Ruang Diskusi Kritis lewat Nobar Film Dokumenter Pesta Babi
Foto: Ist
BATAM, RANAHRIAU.COM- Sejumlah mahasiswa Universitas Riau Kepulauan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada Senin malam (11/5/2026) di kawasan kantin kampus sebagai ruang belajar bersama sekaligus refleksi sosial bagi mahasiswa.
Kegiatan yang dimulai pukul 21.00 WIB hingga selesai itu diinisiasi oleh Reno Ramanda, mahasiswa FISIPOL sekaligus Wakil Ketua Senat FISIPOL, bersama Nuur Faris Akram.
Keduanya menyebut kegiatan tersebut bertujuan membuka ruang dialog, memperluas kesadaran kritis mahasiswa, serta membangun budaya diskusi yang sehat di lingkungan kampus.
Film dokumenter Pesta Babi yang diputar dalam kegiatan tersebut mengangkat berbagai persoalan sosial dan pembangunan di Papua, mulai dari konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, dampak investasi dan proyek pembangunan, hingga suara masyarakat adat yang dinilai kerap tidak mendapatkan ruang yang adil dalam menentukan masa depan wilayahnya sendiri.
Dalam suasana sederhana namun penuh antusiasme, peserta tidak hanya menyaksikan film bersama, tetapi juga terlibat dalam diskusi terbuka mengenai makna dokumenter, kebebasan akademik, hak berekspresi, serta pentingnya menjaga ruang dialog di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui forum tersebut, mahasiswa juga menyampaikan kritik terhadap praktik pembangunan yang dianggap mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal.
“Pembangunan tidak boleh dijadikan alasan untuk merusak hutan, merampas ruang hidup masyarakat adat, ataupun membungkam suara-suara kritis rakyat,” ungkap salah satu peserta diskusi.
Mahasiswa menilai persoalan lingkungan dan ketimpangan pembangunan perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak, baik pemerintah, perusahaan, maupun pemangku kebijakan lainnya.
Mereka menegaskan bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis harus berjalan beriringan. Mahasiswa, menurut mereka, memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap krisis lingkungan, ketimpangan pembangunan, dan berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di Papua maupun daerah lain di Indonesia.
Sebagai inisiator kegiatan, Reno Ramanda dan Nuur Faris Akram berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi, diskusi, dan keberanian berpikir kritis di kalangan mahasiswa tanpa meninggalkan nilai akademik, etika, dan penghormatan terhadap perbedaan pandangan.
Kegiatan ditutup dengan pernyataan sikap bersama yang menolak berbagai bentuk kejahatan lingkungan, khususnya yang terjadi di Papua maupun wilayah lain di Indonesia.


Komentar Via Facebook :