Dari Kampus ke Barak: Kontroversi Pembekalan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Libatkan Militer

Dari Kampus ke Barak: Kontroversi Pembekalan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Libatkan Militer

Foto: Ist, Sumber : Net

JAKARTA , RANAHRIAU.COM- Langit pendidikan tinggi mendadak beraroma barak. Sebanyak 206 awardee S2 dan S3 angkatan 273 dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjalani pembekalan tak biasa di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma sejak 4 hingga 9 Mei 2026. Bukan ballroom hotel, bukan layar Zoom, melainkan tenda, baris-berbaris, dan ritme disiplin ala militer.

Langkah ini menjadi anomali jika dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Angkatan 271 dibekali di hotel Jakarta, angkatan 272 secara daring. Kini, peserta justru “diterjunkan” ke lingkungan militer dengan jadwal padat dari pukul 05.00 hingga 21.00, serta pembatasan penggunaan ponsel hanya satu jam per hari.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menegaskan bahwa keterlibatan militer berawal dari permohonan LPDP. Tujuannya, kata dia, memberikan pelatihan kedisiplinan, baris-berbaris, serta penguatan karakter.

Di sisi lain, Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, M Lukmanul Hakim, mencoba meredam kekhawatiran. Ia menyebut peran TNI hanya sebatas pendamping kegiatan luar ruang, bagian dari rangkaian pembekalan untuk membentuk pola pikir, kemandirian, dan internalisasi nilai kebangsaan.

Namun realitas di lapangan berbicara lain. Sejumlah peserta mengaku terkejut dengan model pembekalan yang terasa lebih dekat ke latihan dasar ketimbang orientasi akademik. Tidur di tenda, ritme disiplin ketat, hingga pembatasan akses komunikasi menjadi pengalaman yang tidak semua awardee anggap relevan dengan dunia riset dan perkuliahan.

Kritik pun datang dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia. Koordinator Nasionalnya, Ubaid Matraji, menilai sektor pendidikan seharusnya steril dari intervensi militer. Menurutnya, langkah ini mencerminkan kegagalan memahami esensi pendidikan tinggi yang menjunjung kebebasan berpikir dan nalar kritis.

Di titik ini, publik dihadapkan pada pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar metode pembekalan: apakah negara sedang membentuk ilmuwan yang merdeka berpikir, atau justru mencetak generasi yang lebih patuh daripada kritis?

Di bawah langit Halim, di antara derap langkah baris-berbaris, perdebatan itu kini berdiri tegak, menunggu jawaban.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :