Kopi, Ego dan Kamera: Drama Singkat di Sudut Pekanbaru
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Siang itu, cangkir-cangkir di sebuah kedai di Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, belum sempat dingin. Obrolan ringan berputar seperti biasa sampai nada suara tiba-tiba naik beberapa oktaf. Dalam hitungan detik, ruang yang tadi beraroma kopi berubah jadi panggung tegang.
Di satu sisi berdiri Iwan Pansa, Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Pekanbaru. Di sisi lain, Suparman, Mantan Bupati Rokan Hulu. Kata-kata saling beradu, cepat, tajam, nyaris tanpa jeda seperti dua arus yang bertubrukan di muara sempit.
Ketika situasi memanas, H. Taufik Tambusai mencoba menjadi penyejuk. Namun amarah yang sudah terlanjur menguap sulit diturunkan hanya dengan satu-dua kalimat. Beberapa pengunjung bangkit, menjadi pagar hidup agar perdebatan tidak berubah jadi benturan fisik.
Tak ada yang benar-benar tahu percik awalnya. Saksi menyebut “salah paham”, dua kata yang sering jadi jembatan rapuh antara tenang dan ricuh. Sisanya, kamera ponsel bekerja lebih cepat dari klarifikasi.
Video itu pun melesat di linimasa. Dalam dunia yang doyan potongan 30 detik, drama kecil bisa tumbuh jadi peristiwa besar. Sementara penjelasan resmi masih kosong, publik sudah keburu mengisi ruang dengan tafsir masing-masing, seperti kopi yang ditambah gula, diaduk sesuai selera.


Komentar Via Facebook :