Muktamar Dipercepat: Bara Konflik Lama Bayangi langkah Nahdlatul Ulama

Muktamar Dipercepat: Bara Konflik Lama Bayangi langkah Nahdlatul Ulama

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Mesin organisasi Nahdlatul Ulama (NU) kembali dipanaskan lebih cepat dari jadwal. Pengurus Besar NU (PBNU) resmi memajukan pelaksanaan Muktamar ke-35 menjadi 1–5 Agustus 2026, dari rencana awal Desember. Sebuah percepatan yang memantik spekulasi: sekadar efisiensi, atau manuver merapikan barisan yang sempat retak?

Ketua Bidang Pendidikan, Hukum, dan Media PBNU, Muhammad Mukri, mengungkapkan bahwa perubahan jadwal ini merupakan usulan langsung dari Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar. Namun, di balik alasan administratif, publik membaca ada riak yang belum sepenuhnya reda.

Luka lama itu bernama konflik internal. Kepengurusan hasil Muktamar ke-34 di bawah komando Ketua Umum Yahya Cholil Staquf sempat terbelah dua tahun lalu. Di satu sisi, kubu Yahya. Di sisi lain, barisan Sekjen Saifullah Yusuf. Bukan sekadar beda pandangan, pertarungan itu dipicu isu sensitif: pengelolaan konsesi tambang batubara, sektor yang sarat kepentingan ekonomi dan politik.

Meski kedua kubu kemudian memilih jalan islah, perdamaian di tubuh organisasi sebesar NU bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Ia seperti bara dalam sekam, tampak padam di permukaan, namun menyimpan panas di kedalaman.

Percepatan muktamar ini pun dibaca sebagai momentum krusial. Apakah menjadi panggung konsolidasi total atau justru arena pertarungan babak baru?

Di tengah dinamika tersebut, satu hal tak terbantahkan: Muktamar ke-35 bukan sekadar forum lima tahunan. Ia adalah ujian arah, siapa mengendalikan kompas organisasi, dan ke mana jutaan warga nahdliyin akan diarahkan di tengah pusaran politik nasional yang kian cair.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :