Kabinet Bergoyang: 5 Kali Reshuffle di Era Prabowo Subianto, CSIS Bongkar Aroma Politik di Baliknya
Foto: Ist, Sumber : Net
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Belum genap dua tahun memegang kendali kekuasaan, Presiden Prabowo Subianto sudah lima kali mengutak-atik komposisi kabinetnya. Bukan sekadar penyegaran birokrasi, langkah ini justru dinilai sarat kalkulasi politik yang lebih mementingkan stabilitas dukungan ketimbang kinerja para pembantunya.
Penilaian tajam itu dilontarkan oleh Arya Fernandes, Kepala Departemen Politik dan Sosial di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), dalam pemaparannya di Jakarta, hari ini. Ia menyebut pola reshuffle yang terjadi sejauh ini bukan berbasis evaluasi kinerja, melainkan strategi menjaga barisan tetap solid di lingkar kekuasaan. “Perombakan kabinet yang dilakukan lebih mencerminkan kebutuhan politik Presiden, bukan semata soal performa,” ujar Arya.
Reshuffle terbaru terjadi pada Senin, 27 April 2026. Lima posisi dirombak dalam satu gerakan yang terasa seperti langkah bidak catur cepat. Salah satu yang paling mencolok adalah masuknya tokoh buruh Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, menggantikan Hanif Faisol Nurofiq yang justru digeser menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Perpindahan ini memunculkan pertanyaan: apakah kompetensi menjadi nomor dua setelah kepentingan politik?
Menurut Arya, pola ini belum akan berhenti. Ia memprediksi, reshuffle akan terus berlanjut hingga tahun ketiga, keempat, bahkan kelima masa pemerintahan. Tujuannya tetap sama: merawat dukungan politik agar tidak retak di tengah jalan.
Di balik layar kekuasaan, kabinet tampak bukan lagi sekadar tim kerja, melainkan arena kompromi. Kursi menteri berubah seperti kepingan puzzle yang bisa dipindah kapan saja demi menjaga keseimbangan koalisi.
Situasi ini menempatkan publik pada satu pertanyaan besar: ketika loyalitas lebih dihargai daripada kinerja, siapa yang sebenarnya diuntungkan, rakyat atau lingkar kekuasaan?


Komentar Via Facebook :