Dua Versi Kebenaran di Puncak Papua: Sipil Tewas, TNI Bantah Operasi di Lokasi Anak-anak Tertembak

Dua Versi Kebenaran di Puncak Papua: Sipil Tewas, TNI Bantah Operasi di Lokasi Anak-anak Tertembak

Foto: Ist, ilustrasi

PAPUA TENGAH, RANAHRIAU.COM- Konflik bersenjata di Papua kembali menyisakan luka sipil. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan sedikitnya 12 warga sipil, termasuk anak-anak, tewas dalam peristiwa di Kampung Kembru, Kabupaten Puncak. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu (18/4/2026), lembaga tersebut mengecam keras operasi militer yang dilakukan TNI terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan mendesak Agus Subiyanto untuk segera mengevaluasi operasi di wilayah tersebut.

Namun, narasi berbeda disampaikan pihak militer. Melalui Komando Operasi TNI Habema, TNI menyebut bahwa insiden pada 14 April 2026 terdiri dari dua peristiwa terpisah di lokasi berbeda, yakni Kampung Kembru dan Kampung Jigiunggi. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa di Kampung Kembru terjadi kontak tembak antara aparat dan OPM yang menewaskan empat anggota kelompok bersenjata tersebut.

Sementara itu, terkait laporan tewasnya anak-anak di Kampung Jigiunggi, TNI menyatakan tidak ada aktivitas militer di lokasi tersebut. “Kami menerima laporan adanya korban anak-anak, namun tidak terdapat operasi TNI di wilayah itu pada waktu kejadian,” ujar Wirya.

Perbedaan keterangan antara Komnas HAM dan TNI ini membuka ruang tanda tanya besar. Di satu sisi, ada klaim jatuhnya korban sipil dalam operasi militer. Di sisi lain, TNI menegaskan pemisahan lokasi dan menyangkal keterlibatan dalam insiden yang menewaskan anak-anak.

Hingga kini, belum ada keterangan independen yang mampu menjembatani dua versi tersebut. Komnas HAM mendorong investigasi menyeluruh dan transparan, sementara publik menanti kejelasan di tengah kabut konflik yang tak kunjung reda di Papua.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :