Praktikum Berujung Maut! Siswa SMP Tewas, Dugaan Kelalaian Sekolah disorot Keras
Ketua GERMAS PPA Riau, Teuku Reyza Agdi Yoga
SIAK, RANAHRIAU.COM- Dunia pendidikan di Riau diguncang tragedi yang tak seharusnya terjadi. Seorang siswa berinisial MA (15), pelajar di SMP Sains Tahfiz Islamic Center, meregang nyawa setelah senapan rakitan berbasis teknologi 3D printer meledak saat ujian praktik sains, Rabu (8/4/2026).
Peristiwa ini langsung memantik kecaman keras. Gerakan Masyarakat Perlindungan Perempuan dan Anak menilai tragedi tersebut bukan sekadar kecelakaan, melainkan indikasi kelalaian serius dalam sistem pengawasan pendidikan.
Ketua GERMAS PPA Riau, Teuku Reyza Agdi Yoga, menyebut kejadian ini sebagai alarm besar bagi dunia pendidikan.
“Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ini tragedi besar dan tidak bisa ditoleransi,” tegasnya.
Praktik Berbahaya di Ruang Belajar
Sorotan utama tertuju pada praktik perakitan senjata oleh siswa tingkat SMP. Aktivitas tersebut dinilai jauh melampaui batas kewajaran pembelajaran, apalagi jika melibatkan bahan berdaya ledak.
“Tidak ada kurikulum yang membenarkan siswa membuat atau menguji senjata. Ini bukan sekadar kecelakaan, tapi patut diduga ada kelalaian serius, bahkan kesalahan sistemik,” lanjut Reyza.
Dugaan Pelanggaran Perlindungan Anak
GERMAS PPA menegaskan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab penuh terhadap keselamatan peserta didik. Tragedi ini dinilai berpotensi melanggar prinsip dasar perlindungan anak sebagaimana diatur dalam hukum yang berlaku.
Lebih dari itu, kasus ini membuka pertanyaan besar: bagaimana praktik berisiko tinggi bisa lolos pengawasan di lingkungan pendidikan?
Desakan Usut Tuntas
Reyza mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat dan transparan. Semua pihak yang terlibat, baik dari unsur sekolah maupun pihak lain, diminta diperiksa tanpa pengecualian.
“Jika terbukti ada kelalaian atau pelanggaran hukum, harus ada sanksi tegas. Ini menyangkut nyawa anak,” ujarnya.
Evaluasi Total Dunia Pendidikan
Selain penegakan hukum, GERMAS PPA juga mendorong Dinas Pendidikan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pembelajaran, terutama yang melibatkan praktik berisiko tinggi.
Hingga kini, proses pemeriksaan masih berlangsung. Namun satu hal sudah pasti: tragedi ini meninggalkan luka mendalam sekaligus peringatan keras bahwa eksperimen tanpa batas di ruang kelas bisa berubah menjadi petaka.
Di balik dinding sekolah yang seharusnya melindungi, sebuah nyawa telah hilang. Dan publik kini menunggu, apakah keadilan akan benar-benar ditegakkan… atau kembali menguap di tengah sunyi.


Komentar Via Facebook :