PMII-Aliansi Mahasiswa Batam Soroti Polri, MBG, dan Kopdes di hadapan Kapolda
Foto: Ist
BATAM, RANAHRIAU.COM– Suara mahasiswa kembali menggema di ruang institusi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Batam bersama Aliansi Mahasiswa Batam menggelar audiensi dengan Asep Safrudin, Selasa (7/4/2026), membawa tiga isu besar: reformasi Polri, efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan pengawasan Koperasi Merah Putih.
Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi formal. Ia menjelma menjadi ruang kritik terbuka, tempat mahasiswa menyampaikan kegelisahan sekaligus dorongan perubahan.
Ketua PMII Batam, Suhardi, menegaskan bahwa reformasi Polri tak boleh berhenti di slogan. Ia harus menjadi agenda strategis dalam memperkuat demokrasi, dengan fondasi profesionalisme, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap HAM.
“Polri tidak hanya soal penegakan hukum, tapi juga bagaimana nilai keadilan dan HAM benar-benar hidup dalam institusi,” tegasnya.
Sorotan juga diarahkan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mahasiswa mengingatkan agar program ini tidak sekadar ambisi besar di atas kertas, tetapi benar-benar tepat sasaran dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa Batam, Muryadi Aguspriawan, menambahkan bahwa reformasi Polri harus dimulai dari dalam: kualitas SDM, sistem meritokrasi, dan supremasi sipil.
Sementara itu, Ketua PB PMII Bidang Hukum dan HAM, Dedy Wahyudi Hasibuan, menyoroti reformasi Polri secara lebih luas. Menurutnya, pembenahan harus menyentuh struktur kelembagaan, budaya organisasi, hingga sistem pengawasan.
Tak hanya Polri, ia juga memberi catatan pada program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes). Tanpa tata kelola yang kuat, program ini dinilai berpotensi menyisakan masalah baru, mulai dari transparansi keuangan hingga risiko penyimpangan.
“Harus ada akuntabilitas dan literasi yang kuat agar koperasi benar-benar menyejahterakan anggota,” ujarnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kapolda Kepri Asep Safrudin menyampaikan apresiasi. Ia menegaskan bahwa Polri membuka ruang kritik sebagai bagian dari proses pembenahan institusi.
Audiensi ditutup dengan penyerahan policy brief dan cendera mata dari PMII Batam. Simbol kecil, namun membawa pesan besar: mahasiswa tak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan arah.
Di tengah dinamika ini, satu hal menjadi jelas. Ruang dialog antara mahasiswa dan aparat bukan lagi sekadar formalitas, melainkan medan pertarungan gagasan demi memastikan reformasi tidak berhenti sebagai wacana.


Komentar Via Facebook :