Lebaran dan Pembebasan: Ketika Takbir Menggema, Siapa yang Sebenarnya Merdeka?
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Lebaran kerap dipoles sebagai panggung kemenangan. Takbir menggema, meja makan penuh, senyum mengembang di antara pelukan maaf. Namun di balik gemerlap itu, ada satu pertanyaan yang jarang disentuh: kemenangan bagi siapa?
Lebaran bukan sekadar ritual spiritual yang berhenti di sajadah atau piring ketupat. Ia adalah momentum evaluasi sosial. Sebab jika Ramadhan adalah latihan menahan lapar, maka Lebaran seharusnya menjadi ujian: apakah masyarakat benar-benar terbebas dari kelaparan yang sistemik, atau hanya sekadar jeda sementara sebelum kembali terjerat?
Di sudut-sudut kota dan desa, ironi itu tampak telanjang. Buruh yang bekerja sepanjang tahun, justru harus berutang demi “merayakan kemenangan”.
Petani yang menanam pangan, malah kesulitan membeli beras. Nelayan yang mengarungi laut, pulang dengan hasil yang tak sebanding dengan harga kebutuhan. Lebaran, bagi mereka, bukan puncak kebebasan, melainkan parade ketimpangan yang dipoles dengan tradisi.
Sosialisme memandang pembebasan bukan sebagai simbol, tapi sebagai kondisi nyata. Kebebasan bukan hanya bebas dari dosa, tapi juga bebas dari penindasan ekonomi.
Apa arti Idul Fitri jika masih ada yang harus memilih antara membeli baju baru atau membayar utang? Apa makna kembali ke fitrah jika struktur sosial tetap memaksa sebagian besar rakyat hidup dalam ketidakadilan?
Zakat, infak, sedekah yang menjadi inti solidaritas dalam Islam sejatinya adalah embrio dari distribusi kekayaan yang lebih adil. Namun dalam praktiknya, ia sering terjebak menjadi karitas sesaat, bukan solusi struktural. Memberi kepada yang miskin memang mulia, tetapi mengapa kemiskinan itu terus diproduksi? Di sinilah kritik sosialis berdiri: sistem yang melanggengkan ketimpangan tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebaikan individual.
Lebaran dalam kacamata pembebasan seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa ketimpangan bukan takdir, melainkan hasil dari relasi kuasa yang timpang. Bahwa kemiskinan bukan aib personal, melainkan konsekuensi dari sistem yang eksploitatif. Dan bahwa solidaritas sejati bukan hanya berbagi makanan, tetapi memperjuangkan perubahan.
Takbir yang berkumandang mestinya tidak hanya menggema di masjid, tapi juga di ruang-ruang kebijakan. Ia harus menjadi gema perlawanan terhadap ketidakadilan, terhadap monopoli, terhadap eksploitasi. Sebab jika Tuhan Maha Besar, maka tak ada kekuasaan ekonomi yang boleh berdiri lebih tinggi dari keadilan itu sendiri.
Lebaran bukan sekadar perayaan, tapi seharusnya deklarasi: bahwa manusia berhak hidup layak, setara, dan bermartabat.
Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah satu hal, kita merayakan kemenangan, di atas kekalahan yang terus diwariskan.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred ranahriau.com, Humas PWI Riau, Humas FKPMR, Angkatan Muda Muhammadiyah Riau


Komentar Via Facebook :