Catatan Redaksi: Membaca Sinyal dari Istana
Foto: Ist, Sumber : Net
RANAHRIAU.COM- Setelah satu tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan, intensitas pertemuan Presiden dengan berbagai unsur masyarakat belakangan ini patut dicermati. Para profesor, pemuka ormas Islam, mantan menteri luar negeri, pengusaha, hingga tokoh-tokoh yang selama ini dikenal kritis, silih berganti diundang ke Istana maupun kediaman Presiden.
Langkah tersebut wajar dimaknai sebagai upaya Presiden membuka ruang dialog dan menghimpun masukan atas program-program yang tengah dan akan dijalankan. Dalam sistem demokrasi, mendengar suara dari beragam latar belakang bukan hanya penting, tetapi juga menjadi kebutuhan, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan domestik yang kian kompleks.
Permintaan dukungan dari Presiden agar program pemerintah dapat berjalan dengan baik juga dapat dipahami. Apalagi, belakangan muncul sejumlah penilaian dari lembaga pemeringkat asing yang bernada pesimistis terhadap arah kebijakan pemerintah. Respons politik pun segera mengemuka. Beberapa partai politik merasa perlu menyatakan komitmen dukungan secara terbuka, seolah ingin memastikan posisi mereka berada dalam barisan kekuasaan.
Namun, publik tentu berharap pertemuan-pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai simbol komunikasi politik semata. Masukan yang disampaikan berbagai kalangan seharusnya benar-benar diolah menjadi koreksi kebijakan yang konkret, terutama pada sektor-sektor yang menyentuh langsung kehidupan rakyat: ekonomi, lapangan kerja, daya beli, dan kepastian hukum.
Keterbukaan Presiden mendengar kritik dan saran adalah modal awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada keberanian menerjemahkan masukan itu menjadi perubahan nyata. Di situlah publik akan menilai, apakah dialog yang dibangun benar-benar dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan, atau sekadar meredam kegelisahan yang sedang tumbuh.


Komentar Via Facebook :