Diserbu Aroma Kopi Legendaris, Toko Setia Jaya Bertahan di tengah Gempuran Kedai Modern
Foto: Ist, Sumber : Net
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Aroma kopi pekat langsung menyambar indera siapa pun yang melintas di Jalan Moh Yamin, Senapelan. Di tengah hiruk-pikuk pasar tua, Toko Setia Jaya tetap berdiri kokoh, menantang zaman sebagai salah satu penjual bubuk kopi legendaris di Kota Pekanbaru.
Puluhan tahun berlalu, etalase tua toko ini masih menjadi saksi aktivitas tanpa henti. Tangan-tangan terampil menakar, menggiling, dan membungkus kopi sesuai pesanan. Tak ada mesin modern serba otomatis, semuanya dilakukan manual. Justru di sanalah letak daya tariknya.
Setia Jaya dikenal sebagai gudang kopi nusantara dengan cita rasa khas Sumatra. Kopi Riau berbahan Liberika Meranti menjadi primadona, dibanderol Rp220.000 per kilogram. Karakternya tebal, aromanya tajam, dan menjadi favorit pelanggan lintas generasi.
Bagi penikmat kopi premium, Arabika tersedia dengan harga Rp300.000 per kilogram. Sementara Kopi Istimewa dengan keseimbangan rasa pahit dan aroma lembut dipatok Rp250.000 per kilogram dan menjadi pilihan pelanggan tetap.
Tak ketinggalan Kopi Aceh dengan karakter aftertaste kuat serta Kopi No.1 dan Kopi Special yang menyasar segmen menengah hingga terjangkau. Seluruh harga ditampilkan terbuka, memungkinkan pembeli memilih takaran mulai dari ons hingga kilogram.
Barista Pekanbaru, Prayoga Maulana (27), menyebut Setia Jaya sebagai fondasi budaya kopi lokal.
“Tempat seperti Setia Jaya itu ibarat akar. Dari sanalah orang pertama kali mengenal kopi dengan rasa yang kuat,” ujarnya, Senin (09/02/2026).
Delapan tahun berlangganan, Yoga mengaku karakter kopi di Setia Jaya memiliki body tebal dan aroma tajam, sangat cocok untuk seduhan tubruk yang masih digemari masyarakat.
“Mesin roasternya masih alat lama. Mungkin itu yang bikin rasanya tetap autentik,” katanya.
Hal senada diungkapkan Alfian (52), pelanggan setia yang mengandalkan Setia Jaya sebagai pemasok kopi harian. “Kalau kopi pagi, saya sudah aman. Rasanya konsisten, aromanya kuat, harganya masuk akal,” ujarnya.
Menurut Alfian, sistem penjualan berbasis takaran menjadi keunggulan tersendiri. “Habis gajian, beli langsung sekilo. Aman sampai tanggal tua,” tuturnya sambil tersenyum.
Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dan minuman instan, Setia Jaya justru tak kehilangan peminat. Anak muda hingga pelanggan lama masih berdatangan, mencari rasa kopi yang jujur dan apa adanya.
Lebih dari sekadar tempat jual beli, Toko Setia Jaya telah menjadi ruang interaksi sosial sekaligus penanda sejarah kopi Pekanbaru. Setiap bungkus kopi yang dibawa pulang bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita tentang tradisi dan ketekunan.
Di sinilah aroma kopi bukan sekadar dagangan, melainkan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi.


Komentar Via Facebook :