Alarm Moodys Berbunyi: Outlook 5 Bank Raksasa RI Negatif, IHSG Ambruk, Rupiah ke Titik Terlemah
Foto: Ist
JAKARTA, RANAHRIAU.XOM- Tekanan terhadap perekonomian Indonesia kian nyata. Lembaga pemeringkat global Moody’s Ratings resmi memangkas outlook lima bank terbesar Indonesia menjadi negatif, menyusul penurunan outlook sovereign pemerintah Indonesia. Bank-bank yang terdampak adalah Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN pilar utama sistem keuangan nasional.
Moody’s menegaskan, penurunan outlook sovereign Indonesia secara langsung menyeret peringkat kelima bank tersebut. Dengan status outlook negatif, peluang kenaikan peringkat nyaris tertutup. Outlook hanya bisa kembali stabil jika outlook sovereign Indonesia kembali stabil dan peringkat Baa2 tetap dipertahankan.
Sebaliknya, Moody’s memberi peringatan keras: peringkat bank bisa diturunkan bila peringkat Indonesia kembali terdegradasi, atau jika terjadi pelemahan signifikan pada kualitas aset, permodalan, atau profitabilitas bank. Meski Moody’s menilai profil keuangan bank-bank Indonesia masih solid, mereka menegaskan ruang geraknya tetap dibatasi oleh risiko negara.
Respons pemerintah pun muncul. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta kelima bank besar itu memberikan penjelasan langsung kepada Moody’s. Airlangga menekankan bahwa peringkat kredit Indonesia masih berada di level Baa2, di atas batas investment grade, namun mengakui adanya kekhawatiran yang perlu dijawab oleh masing-masing korporasi.
Salah satu sorotan utama Moody’s adalah ketidakpastian kebijakan pemerintah, yang menurut Airlangga harus dijelaskan secara rinci—terutama terkait Danantara, entitas baru yang kemunculannya memicu pertanyaan serius dari pasar keuangan global.
Tekanan eksternal ini sejalan dengan gejolak pasar domestik. Selama sepekan perdagangan 2–6 Februari 2026, IHSG terjun bebas 4,73%, anjlok dari 8.329,606 menjadi 7.935,260. Kapitalisasi pasar BEI ikut menyusut tajam 4,69% menjadi Rp 14.341 triliun, turun dari Rp 15.046 triliun pekan sebelumnya.
Meski pada penutupan Jumat investor asing masih mencatatkan beli bersih Rp 944,31 miliar, secara kumulatif sepanjang 2026 asing justru sudah kabur dengan jual bersih Rp 11,02 triliun, sinyal kehati-hatian yang tak bisa diabaikan.
Tekanan juga menghantam nilai tukar. Rupiah ditutup melemah ke Rp 16.860 per dolar AS, terdepresiasi 0,21% dan menjadi level terlemah sejak 22 Januari 2026. Secara mingguan, rupiah terkoreksi 0,48%, mematahkan tren penguatan dua pekan sebelumnya.
Kombinasi peringatan Moody’s, tekanan bank jumbo, IHSG ambruk, dan rupiah melemah menandai satu hal: pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah. Dan ke depan, bukan sekadar narasi optimisme yang ditunggu, melainkan jawaban konkret yang diyakini pasar global.


Komentar Via Facebook :