Cukup Mengejutkan! 6,4 Persen Pelajar di Pekanbaru Teridentifikasi Carrier Thalasemia
Suasana silaturahmi anak dan orang tua saat kegiatan feedback dan edukasi thalasemia di RSUD Arifin Achmad, sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan pencegahan sejak dini
PEKANBARU, RANAHRIAU COM– Hasil skrining kesehatan yang dilakukan Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI) Cabang Riau bersama Tim Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad mengungkap fakta yang cukup mengejutkan.
Dari 500 pelajar dan mahasiswa yang menjalani pemeriksaan darah, sebanyak 32 orang atau 6,4 persen teridentifikasi sebagai carrier (pembawa sifat) thalasemia, sementara 36 orang atau 7,2 persen mengalami defisiensi besi.
Skrining ini dilakukan secara sukarela dalam kegiatan bakti sosial pada Oktober 2025, dengan tujuan mendeteksi dini carrier thalasemia dan anemia defisiensi besi pada remaja.
Peserta berasal dari sejumlah SMA, SMK, dan perguruan tinggi di Pekanbaru, di antaranya SMK Abdur Rab, MAN 3 Pekanbaru, SMK Ikasari, SMKN 5 Pekanbaru, SMK IT Ittihad Rumbai, Akademi John Paul, serta Universitas Abdurrab.
Ketua YTI Cabang Riau, Dr. dr. Elmi Ridar, Sp.A, mengatakan temuan ini menunjukkan pentingnya skrining sejak usia remaja.
“Kami menemukan 32 orang atau 6,4 persen carrier thalasemia dan 36 orang atau 7,2 persen defisiensi besi,” ujarnya saat pertemuan silaturahmi serta kegiatan feedback dan edukasi bagi anak dan orang tua di Ruang Serbaguna RSUD Arifin Achmad, Kamis (5/2/2026).
Dr. Elmi menjelaskan, carrier thalasemia adalah individu pembawa sifat yang tampak sehat dan dapat hidup normal, namun berpotensi menurunkan sifat tersebut kepada keturunannya. Risiko menjadi besar bila dua carrier menikah, karena dapat melahirkan anak dengan thalasemia mayor.
Thalasemia mayor merupakan kelainan genetik berat pada sel darah merah dengan gejala pucat kronis, gangguan pertumbuhan, dan kondisi yang mengharuskan penderita menjalani transfusi darah rutin seumur hidup serta mengonsumsi obat setiap hari.
“Thalasemia ini sebenarnya bisa dicegah, yaitu dengan tidak menikah sesama carrier. Untuk mengetahui status carrier atau tidak, cukup melakukan skrining darah thalasemia yang hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup,” jelasnya.
Ketua Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad, DR. dr. Fridayenti, Sp.PK(K), menyampaikan bahwa fasilitas dan reagen untuk skrining thalasemia tersedia di RSUD Arifin Achmad. Tantangan terbesar justru terletak pada pemahaman masyarakat.
“Banyak orang tua belum memahami pentingnya pemeriksaan ini. Bahkan saat sosialisasi ke sekolah, masih banyak guru yang asing dengan istilah thalasemia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keterbatasan administratif di sekolah negeri membuat kegiatan perdana ini lebih banyak dilakukan di sekolah swasta. Namun ke depan, pihaknya berharap skrining dapat menjangkau seluruh anak di Riau.
“Harapan kami, semua anak Riau bisa mengetahui status carrier mereka sejak dini,” katanya.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Direktur RSUD Arifin Achmad, drg. Yusi Prastiningsih, MM. Ia mengingatkan para orang tua agar tidak merasa malu atau cemas.
“Kita melakukan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar tidak ada anak atau cucu kita kelak yang harus menjalani hidup penuh perjuangan,” ujarnya.
Menurut Yusi, saat ini terdapat sekitar 300 penyandang thalasemia yang tercatat di RSUD Arifin Achmad, dengan sekitar 160 orang rutin menjalani transfusi darah setiap bulan.
“Banyak dari mereka yang tetap berprestasi, ada yang sudah sarjana, S2, apoteker, perawat, dan bekerja mandiri. Perjuangan mereka luar biasa,” katanya penuh haru.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, S.Kep., MM, menilai skrining thalasemia perlu menjadi bagian dari program pemerintah dalam pengendalian penyakit tidak menular.
“Khusus untuk thalasemia, kami mendorong visi Zero Thalasemia di Riau. Jangan sampai ada lagi anak yang lahir sebagai penyandang thalasemia,” ujarnya.
Ia menambahkan, skrining dapat dilakukan saat pemeriksaan kesehatan gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan dilanjutkan ke fasilitas rujukan tingkat lanjutan (FKTL).
Selain thalasemia, hasil skrining juga menunjukkan angka defisiensi besi pada remaja masih cukup tinggi. Kondisi ini dapat berdampak pada kecerdasan, konsentrasi, daya ingat, dan perilaku anak.
“Anak sekolah tidak boleh anemia. Syukurnya saat ini sudah ada pemberian obat cacing rutin dan program makan bergizi. Harapannya, anak-anak Riau tumbuh semakin sehat dan cerdas,” tutupnya.


Komentar Via Facebook :