Dari Mihrab ke Gelar Doktor: Ketika Ilmu Diperjuangkan dengan Doa

Dari Mihrab ke Gelar Doktor: Ketika Ilmu Diperjuangkan dengan Doa

Dr. Sumantri Adenin. S.Ag.,MH. C.W.C. C.PM bersama para Penguji dan Keluarga Besar

RANAHRIAU.COM- Gelar Doktor bagi sebagian orang adalah puncak akademik. Namun bagi saya, ia adalah tanda kecil dari kasih sayang Allah, hasil dari sujud yang panjang, doa yang tak pernah benar-benar selesai, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menakar ujian hamba-Nya.

Perjalanan ini saya mulai pada tahun 2022. Dengan restu seorang istri yang Allah titipkan setahun sebelumnya, saya melangkah ke UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Program Satu Rumah Satu Doktor dari Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi sebab dibukanya pintu ikhtiar. Dua semester bantuan SPP terasa sebagai rahmat awal.

Setelahnya, Allah mengajarkan satu pelajaran penting: bergantung sepenuhnya hanya kepada-Nya.

Saat Allah Mengosongkan, Agar Dia Mengisi

Tahun 2023 menjadi fase paling sunyi sekaligus paling mendewasakan iman. Saya berhenti menjadi imam demi mendampingi ikhtiar kehamilan istri, sebuah pilihan yang saya niatkan sebagai ibadah.

Tak lama, Allah menguji saya dengan cara yang tak pernah saya bayangkan. Tabungan haji dan dana pendidikan, hasil menahan diri bertahun-tahun, sebesar 124 juta rupiah, lenyap dalam investasi yang gagal.

Saat itu saya belajar satu hal: Allah tidak sedang mengambil harta saya, melainkan sedang membersihkan ketergantungan saya.

Di tengah kekosongan materi, Allah membuka pintu pengabdian. Saya dipercaya menjadi Kepala MDTA dan membina anak-anak yatim di Yayasan Baitul Jalal.

Dari honor mengajar Al-Qur’an itulah, saya kembali belajar sabar, ikhlas, dan qana’ah. Rupiah demi rupiah saya kumpulkan, bukan karena yakin cukup, tetapi karena yakin Allah Maha Mencukupi.

Ketertinggalan yang Menyimpan Hikmah

Memasuki 2025, rasa tertinggal sering mengetuk hati. Teman-teman seangkatan telah sampai di garis akhir, sementara saya masih bergelut dengan keterbatasan.

Hingga suatu hari, Pembimbing Akademik saya, Prof. Dr. Khairunnas Jamal, bertanya,
“Sudah siap proposal antum?”
Saya menjawab jujur, tanpa menyembunyikan apa pun,
“Sudah lama siap, Pak. Tapi saya tidak punya biaya.”
Beliau menjawab dengan ketenangan orang berilmu dan bertakwa, “Ujian saja. Jangan pikirkan yang lain.”

Di situlah saya menyadari: ketika niat lurus, Allah sering menghadirkan pertolongan melalui lisan orang-orang saleh.

Meski proses sempat terhambat oleh dinamika internal kampus, Allah melapangkan jalan melalui kepemimpinan Prof. Helmiati dan Prof. Jumni Nelly. Biaya diringankan. Proses dipermudah. Apa yang sebelumnya terasa mustahil, perlahan menjadi mungkin.

Rezeki yang Datang Bersama Amanah
Allah Maha Mengetahui kapan hamba-Nya benar-benar membutuhkan. Di tengah penyelesaian disertasi, sebuah panggilan datang dari ajudan Bapak H. Agung Nugroho, Walikota Pekanbaru. Saya diminta menjadi imam di kediaman dinas beliau. Amanah ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jawaban doa yang lama terucap dalam sujud.

Pertolongan juga Allah kirim melalui hati-hati yang lembut. Bapak H. Jhon Pitra dan Bapak H. Ujang Ferry, yang dengan keikhlasan membantu melalui pinjaman pendidikan, menjadi wasilah terakhir yang mengantarkan saya ke ruang ujian. Saya yakin, kebaikan mereka dicatat sebagai sedekah jariyah.

Ilmu, Sujud, dan Tawakal

Hari ini, ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat bahwa setiap air mata ternyata adalah doa yang belum sempat saya ucapkan.

Dari mihrab kecil hingga akhirnya dipercaya menjadi Dosen Tetap di IAI Lukman Edy, Allah menunjukkan bahwa jalan ilmu adalah jalan ibadah, dan kesabaran adalah kunci keberkahan.

Pendidikan ini bukan semata tentang gelar. Ia adalah pelajaran tentang tetap sujud ketika dunia terasa sempit, tetap bertawakal saat logika tak lagi mampu menjelaskan, dan tetap berbaik sangka kepada Allah dalam keadaan apa pun.

Janji Allah Itu Pasti
Jangan pernah berputus asa saat Allah menguji dengan kehilangan. Bisa jadi, Dia sedang menyiapkan pemberian yang jauh lebih besar. Harta bisa dicari kembali, tetapi iman dan kesungguhan adalah modal yang tak tergantikan.

Gelar Doktor ini adalah saksi bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang di jalan ilmu.

Man jadda wajada.

Dan lebih dari itu: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3)
 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :