Mengapa Mambang Mit Terpilih? Membaca Arah Angin Politik di Balik Pergantian Ketua FKPMR Riau

Mengapa Mambang Mit Terpilih? Membaca Arah Angin Politik di Balik Pergantian Ketua FKPMR Riau

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Terpilihnya HR Mambang Mit sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) menggantikan almarhum drh. Chaidir bukanlah peristiwa kebetulan.

Ia adalah hasil dari akumulasi dinamika sosial, kultural, dan politik elite Melayu Riau yang telah lama berdenyut di bawah permukaan.

Jika ditelisik lebih dalam, setidaknya ada lima faktor kunci yang menjelaskan mengapa Mambang Mit akhirnya mengunci dukungan mayoritas pemuka masyarakat.

Kekosongan Figur Pemersatu Pasca Wafatnya drh. Chaidir
Almarhum drh. Chaidir dikenal sebagai figur penjaga keseimbangan, bukan sekadar ketua administratif. Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar bukan hanya struktur, tetapi otoritas moral.

FKPMR membutuhkan sosok yang tidak sekadar dikenal, tetapi diterima lintas suku, lintas organisasi, dan lintas kepentingan.

Di titik inilah Mambang Mit muncul sebagai jawaban. Ia tidak datang membawa bendera kelompok tertentu, melainkan reputasi sebagai tokoh tua yang kenyang asam garam konflik sosial Riau.

Modal Sosial yang Tak Dimiliki Kandidat Lain
Dalam forum pemuka masyarakat, modal sosial jauh lebih menentukan daripada popularitas.

Mambang Mit memiliki rekam jejak panjang dalam relasi adat, tokoh agama, tokoh politik, hingga birokrasi daerah. Ia dikenal sebagai figur yang mudah dihubungi, sulit diprovokasi, dan enggan membakar konflik.

Di tengah Riau yang sedang rapuh oleh isu korupsi, konflik elite, dan krisis kepercayaan publik, FKPMR tampaknya memilih stabilitas ketimbang sensasi.

Figur “Ayah” di Saat Forum Butuh Penjaga, Bukan Penantang

Julukan informal yang melekat pada Mambang Mit sebagai sosok “ayah” bukan tanpa makna. Ini mencerminkan harapan kolektif agar FKPMR tidak berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik praktis.

Berbeda dengan calon lain yang dipersepsikan lebih agresif dan berambisi ekspansif, Mambang Mit dilihat sebagai penjaga marwah, bukan pemburu panggung.

Kesepakatan Senyap Para Tetua
Musyawarah khusus FKPMR boleh saja tampak demokratis di permukaan, tetapi publik paham: keputusan sejati sering lahir jauh sebelum palu diketuk.

Sejumlah tokoh senior dan pemangku adat disebut-sebut telah lebih dulu menyepakati satu nama—demi menghindari perpecahan internal.

Dalam konteks ini, Mambang Mit adalah opsi paling minim resistensi. Ia diterima, bukan dipaksakan.

Momentum Politik Riau yang Sedang “Lelah”
Riau hari ini sedang lelah. Lelah oleh kegaduhan politik, lelah oleh kasus hukum pejabat, lelah oleh konflik elite yang tak berkesudahan.

FKPMR tampaknya membaca situasi ini dengan cermat: yang dibutuhkan bukan pemimpin yang lantang, tetapi pemimpin yang menenangkan. Mambang Mit hadir tepat di momentum itu.

Bukan Sekadar Ketua, Tapi Penjaga Arah
Terpilihnya HR Mambang Mit adalah pesan simbolik: FKPMR ingin kembali ke khitah sebagai rumah besar pemuka masyarakat, bukan perpanjangan tangan kekuasaan atau kendaraan politik.

Namun tantangan sesungguhnya justru baru dimulai. Sejarah akan mencatat apakah Mambang Mit mampu menjaga warisan moral almarhum drh. Chaidir, atau sekadar menjadi jeda sebelum konflik baru muncul.

Kini, Riau sedang menunggu. Dan waktu seperti biasa, tak pernah bisa dibujuk.

 

Abdul Hafidz AR, S. IP, Humas Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) 

 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :