Adaptasi di Tengah Dinamika Bisnis Energi

Adaptasi di Tengah Dinamika Bisnis Energi

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- KG Suwandiko, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., memilih konsep sensemaking sebagai dasar kajiannya untuk memahami dinamika pengambilan keputusan dalam sektor energi hulu. Ia melihat bahwa industri energi menghadapi ketidakpastian tinggi, mulai dari fluktuasi harga global, tuntutan transisi energi, hingga risiko operasional yang kompleks. Dalam konteks nasional, Riau sebagai salah satu pusat produksi minyak Indonesia menyumbang lebih dari 25 persen produksi migas nasional. Oleh karena itu, kemampuan organisasi untuk membangun pemahaman bersama menjadi sangat penting bagi keberlanjutan operasi.

Menurut KG Suwandiko, praktik sensemaking terlihat jelas pada perusahaan energi besar di Riau, seperti PT PHR, yang mengelola operasi hulu dengan tingkat risiko tinggi.Perusahaan ini memanfaatkan digitalisasi, simulasi visual, dan analitik real time untuk membaca anomali operasional secara lebih akurat. Tim lintas fungsi tidak hanya melihat angka, tetapi juga menafsirkan pola, memahami konteks, dan membangun makna bersama sebelum mengambil keputusan.Pendekatan ini memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kualitas respons terhadap situasi yang ambigu.

Ia menilai bahwa sensemaking yang kuat mendorong organisasi untuk lebih adaptif, lebih cepat merespons risiko, dan lebih konsisten dalam menjaga keselamatan kerja. Program seperti continuous improvement (CIP) dan investigasi insiden menjadi ruang bagi pekerja untuk menginterpretasikan situasi kompleks dan menyepakati langkah yang paling aman. Pendekatan ini memperkuat budaya belajar dan meningkatkan ketahanan operasional di tengah dinamika industri energi.

Sebagai gagasan profesional, KG Suwandiko mengusulkan pengembangan Safety Sensemaking Framework yang menekankan interpretasi subjektif, diskusi terbuka, dan pembacaan sinyal risiko secara kolektif. Ia menilai bahwa pendekatan ini dapat mendorong budaya keselamatan yang lebih generatif, di mana pekerja tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga memahami makna di balik setiap risiko. Dengan demikian, organisasi dapat mencegah insiden fatal dan meningkatkan keberlanjutan operasi di tengah tekanan industri energi yang terus berubah.

Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus, sebagai akademisi dan peneliti Ilmu Manajemen yang dimintai pendapat mengenai gagasan KG Suwandiko, pendekatan ini memiliki nilai penting karena mampu menghubungkan aspek teknis industri energi dengan proses kognitif dan sosial dalam organisasi. Dr. Chandra mengapresiasi kemampuan KG Suwandiko mengangkat sensemaking sebagai fondasi adaptasi di sektor berisiko tinggi. Ia juga memberikan catatan kritis bahwa organisasi perlu menyeimbangkan analisis data dengan nilai etika dan tujuan jangka panjang. Menurutnya, integrasi sensemaking dengan kecerdasan spiritual akan memperkuat kepemimpinan yang berintegritas, sehingga keputusan strategis tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada keselamatan dan keberlanjutan energi.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :