Menanti CPIB di Kuansing: Mengapa Kita Masih Segan pada Koruptor Lokal?

Menanti CPIB di Kuansing: Mengapa Kita Masih Segan pada Koruptor Lokal?

Oleh: Hendrianto

Di peta dunia, Singapura dan Hong Kong hanyalah titik kecil, namun dalam indeks persepsi korupsi, mereka adalah raksasa. Keberhasilan CPIB di Singapura dengan tingkat vonis nyaris 100% atau ICAC di Hong Kong dalam membersihkan birokrasi, bukanlah sebuah keajaiban yang turun dari langit. 

Itu adalah hasil dari sistem yang kokoh, independensi mutlak, dan nyali penyidiknya. Pertanyaannya: mungkinkah semangat "polisi kelas dunia" ini meresap hingga ke tingkat lokal, ke dalam koridor Polres Kuantan Singingi (Kuansing)?

Jika kita menengok ke Singapura, filosofi mereka sederhana namun mematikan bagi koruptor: tidak ada ikan yang terlalu kecil untuk ditangkap, tidak ada paus yang terlalu besar untuk dilawan. 

Di Kuansing, harapan kita adalah melihat polisi yang tidak ragu menyentuh proyek-proyek besar daerah jika terendus aroma suap, sekaligus tetap teliti mengawasi dana desa agar tidak bocor di tingkat tapak.

Selain itu, strategi "Tiga Pilar" dari Hong Kong—Penegakan, Pencegahan, dan Edukasi—seharusnya menjadi nafas baru. Polisi di Kuansing tidak hanya hadir saat borgol harus disematkan, tetapi juga hadir di sekolah-sekolah dan kantor dinas untuk menanamkan budaya malu korupsi. 

Tanpa perubahan budaya, penangkapan hanyalah solusi sementara atas masalah yang berulang. Membangun integritas di daerah seperti Kuansing memiliki tantangan unik. Di sini, hubungan kekerabatan dan pertemanan sangat kental. 

Seringkali, rasa "segan" atau tekanan dari kelompok kepentingan lokal menjadi kerikil dalam sepatu penegakan hukum. Namun, kita harus berkaca pada kepolisian di negara-negara Skandinavia. Mereka bekerja dengan sistem transparansi digital yang ketat. 

Jika Polres Kuansing mampu mengoptimalkan forensik digital dan melacak aliran dana (follow the money) secara profesional tanpa pandang bulu, maka sekat-sekat "kedekatan personal" itu akan runtuh dengan sendirinya di hadapan bukti-bukti ilmiah.

Menjadikan polisi di Kuansing setangguh polisi dunia juga menuntut dukungan dari pusat. Penyidik tipikor harus diberikan jaminan keamanan dan kesejahteraan yang layak agar mereka tidak goyah oleh iming-iming materi. Integritas membutuhkan pondasi yang stabil.

Masyarakat Kuansing pun punya peran sangat penting. Kita butuh sistem pengaduan yang aman (whistleblowing system). Warga harus merasa terlindungi saat melaporkan dugaan penyimpangan, persis seperti warga Norwegia yang percaya penuh bahwa laporan mereka akan ditindaklanjuti oleh tanpa membocorkan identitas pelapor.

Kita memimpikan sebuah hari di mana pembangunan di Kuantan Singingi tidak lagi terkendala oleh "biaya-biaya gelap". Kita mendambakan jalan-jalan yang mulus di pelosok desa, sekolah yang fasilitasnya lengkap, dan layanan kesehatan yang prima karena setiap rupiah APBD sampai ke tujuannya.

Harapan ini bukan hanya angan-angan. Jika Polri, khususnya di tingkat Polres Kuansing, mulai mengadopsi standar ketegasan CPIB dan metode edukasi ICAC, maka "Marwah" yang sering kita gaungkan tidak lagi sekadar slogan, melainkan realitas penegakan hukum yang berwibawa. Maju terus Polres Kuansing. Wassalam. (***)

Editor : Eki Maidedi
Komentar Via Facebook :