Menanti Taji Dubalang: Saat Kebun Pemda Porak-Poranda dan Alam Mulai Bicara
Ditulis oleh : Hendrianto
Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kembali berduka. Bukan karena bencana alam yang datang tiba-tiba, melainkan karena "bencana" buatan manusia yang dibiarkan merajalela.
Aset kebun milik Pemerintah Daerah yang seharusnya terjaga, kini dikabarkan porak-poranda oleh aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti).
Yang lebih menyayat hati adalah heningnya suara para tokoh. Ke mana perginya keberanian yang biasanya lantang bicara soal marwah negeri?
Kita tentu masih ingat momen sakral pengukuhan Dubalang oleh Kapolda Riau beberapa waktu lalu. Harapan besar sempat membuncah; Dubalang diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan dan meminimalisir kerusakan akibat Peti.
Namun, hingga hari ini, kehadiran mereka seolah hanya menjadi simbol di atas kertas. Sejak dikukuhkan, belum ada gebrakan nyata yang mampu membendung laju alat-alat berat yang merobek tanah Kuansing.
Jika penjaga yang diberi amanah saja diam, lantas kepada siapa lagi hutan dan sungai ini harus mengadu?
Haruskah kita menunggu Kuansing tenggelam sebelum kita sadar? Fenomena banjir bandang yang melanda Sumatera Barat dan beberapa daerah lainnya beberapa waktu lalu seharusnya menjadi pelajaran yang sangat mahal.
Kerusakan hulu sungai dan hilangnya vegetasi akibat tambang ilegal adalah tiket VIP menuju bencana ekologis. Alam memiliki cara sendiri untuk "menagih hutang" atas setiap jengkal tanah yang kita rusak.
Kuansing tidak butuh sekadar seremonial atau gelar adat yang mentereng jika tidak dibarengi dengan aksi nyata di lapangan. Kita butuh Dubalang yang benar-benar menjadi "pagar nagari", bukan sekadar penonton di tengah kerusakan yang kian menjadi-jadi.
Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya mewarisi lubang-lubang maut dan sungai yang keruh, sementara kita hari ini memilih untuk bungkam.


Komentar Via Facebook :